Dulu saya pernah diberitahu oleh teman saya bahwa waktu itu ibarat anak panah, sekali terlepas dari busurnya, maka ia tidak akan pernah kembali. Yah, begitulah waktu, sekali sudah terlewat, tidak akan bisa kembali lagi, tak akan terulang lagi. Mungkin hanya khayalan belaka bagi orang yang memimpikan sesuatu yang bernama ‘mesin waktu’.

Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan ke depan, tidak mungkin ke belakang. Waktu juga akan berlalu dengan cepat apabila kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Padahal para pendahulu kita, yaitu para ulama salaf sangat bersemangat dalam menjaga dan memanfaatkan waktu yang mereka miliki.

Dari Al-Hasan Al-Basri, diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanya (akan hidup) beberapa hari, setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.”[1] Dari Al-Hasan juga diriwayatkan, beliau berkata, “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit (lebih ketat) dalam menjaga umurnya daripada hartanya.”[2]

Lihatlah ulama terdahulu dalam menjaga waktunya. Bahkan waktu lebih mereka cintai dibandingkan dengan hartanya. Begitu pula kita, seharusnya lebih bersemangat dalam menjaga waktu. Karena waktu adalah nikmat yang banyak dilupakan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dua nikmat yang manusia banyak tertipu dengannya, yakni nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Selain itu, waktu adalah sesuatu yang banyak di sia-siakan oleh banyak manusia. Yahya bin Muhammad bin Hubairah (beliau adalah guru dari Ibnul Jauzi) berkata, “Waktu adalah yang paling berharga dari apa yang engkau jaga, dan aku melihat waktu itu juga yang paling mudah tersia-siakan olehmu.”[3]

Maka sebagai seorang penuntut ilmu, harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda suatu pekerjaan yang bisa ia selesaikan saat itu juga. Seperti pesan yang disampaikan Al-Hasan dalam menasehati muridnya dengan mengatakan, “Kejarlah ajalmu, jangan lagi katakan, ‘Besok dan besok.’ Karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabbmu.”[4]

Sebagai contoh akan saya bawakan satu kisah yang mengagumkan dari seorang yang bernama Abul Wafa’ bin Abu Aqil. Beliau menceritakan, “Dengan segala kesungguhan, aku juga memendekkan waktu makanku, sampai-sampai aku memilih memakan biskuit yang dilarutkan dengan air daripada memakan roti. Alasannya karena kedua makanan tersebut berbeda jauh waktu yang dihasilkan ketika mengunyahnya. Yakni demi lebih memberi waktu untuk membaca dan menyalin berbagai hal bermanfaat yang belum sempat kuketahui.”[5]

Masih banyak lagi kisah dan perkataan ulama salaf, bagaimana cara mereka menjaga waktu. Cukuplah sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup tulisan kali ini. Beliau bersabda yang artinya, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi, hadits shahih)

Catatan: Banyak mengambil fedah dari kitab terjemahan Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf


[1] Siyar A’lamin Nubala’, 4/585

[2] Syarhus Sunnah Al-Baghwai, 14/225

[3] Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 1/281

[4] Hilyatul Auliya, 2/140

[5] Dzail Thabaqat Al-Hanabilah, 1/177

About these ads