Sungguh jika kita ingin melihat para ulama salaf, niscaya akan kita dapati hikmah yang sangat banyak. Perkataan mereka sungguh menyentuh, kisah mereka membuat kita seakan tak percaya dibuatnya. Di bawah ini saya telah mengetik ulang beberapa pesan para ulama salaf yang saya ambil dari terjemahan kitab Shifatush Shafwah. Semoga bermanfaat.

Abdullah bin Sahl berkata, aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “Siapa saja yang menyukai perhiasan dunia dan akhirat, hendaknya ia mempertimbangkan ilmu. Siapa saja yang ingin mengenal kezhuhudan, hendaknya ia melihat hikmah. Siapa yang ingin mengetahui akhlak yang mulia, maka hendaknya ia memperhatikan adab-adab. Siapa yang ingin mencari sebab-sebab penghidupan yang dapat dijadikan pegangan, hendaknya ia memperbanyak saudara. Siapa yang ingin tidak diganggu, hendaknya ia tidak mengganggu. Dan barangsiapa yang menginginkan ketinggian derajat dunia dan akhirat, hendaknya ia bertakwa.” (4/97)

Ahmad bin Abu hawari berkata, aku mendengar Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad Al-‘Ansi berkata, “Kunci dunia adalah kenyang sedangkan kunci akhirat adalah lapar. Pokok semua kebaikan di dunia dan di akhirat adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada yang Dia cintai dan tidak Dia cintai. Sesungguhnya kelaparan di sisi-Nya berada di dalam lemari-lemari sebagai simpanan, yang hanya akan diberikan kepada hamba yang Dia cintai. Sungguh, meninggalkan sesuap makan malam lebih aku sukai daripada memakannya, sehingga aku bisa shalat dari awal hingga akhir malam.” (4/223)

Dan inilah nasehat terakhir yang bisa saya muat dalam tulisan kali ini. Dari Sufyan ats-Tsauri berkata, Abu Dzar Al-Ghifari pernah berkata di sisi Ka’bah, “Duhai manusia, aku adalah Jundub Al-Ghifari. Pergilah kemari untuk menemui saudara kalian, seorang pemberi nasehat yang benar-benar menaruh rasa belas kasih.”

Lalu orang-orang pun mengelilinginya, baru kemudian Abu Dzar berkata, “Apa pendapat kalian bila salah seorang dari kalian ingin melakukan perjalanan, bukankah dia akan mempersiapkan bekal yang terbaik agar dapat mengantrakannya sampai tujuan?” Mereka menjawab, “Benar, memang demikian adanya.”

“Sesunggunya perjalanan menuju akhirat lebih jauh daripada yang kalian tuju di dunia ini,” kata Abu Dzar.

Meraka bertanya, “Lalu bekal apa yang baik bagi kami?”

Abu Dzar menjawab, “Berhajilah kalian untuk mengahadapi urusan  yang amat agung, berpuasalah pada hari yang panasnya sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kebangkitan, dan laksanakanlah shalat dua raka’at di kegelapan malam untuk menghadapi kengerian dalam kubur. Ucapkanlah perkataan yang baik dan diamlah dari perkataan yang buruk untuk menghadapi lamanya berdiri pada hari yang agung (hari kiamat), sedekahkanlah hartamu agar engkau selamat dari kesulitan pada hari tersebut. Jadikanlah dunia ini menjadi dua majelis, majelis untuk mencari yang halal dan majelis untuk mencari akhirat, majelis yang ketiga hanya mendatangkan mudharat (keburukan) dan tidak memberi manfaat maka jangan engkau datangi. Dan jadikanlah hartamu dua dirham, satu dirham halal yang kamu nafkahkan untuk keluargamu dan satu dirham lagi kamu salurkan untuk akhiratmu, dirham yang ketiga hanya mendatangkan mudharat dan tidak memberi manfaat kepadamu, maka janganlah kamu mendatanginya.” (1/591-592)

About these ads