Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Sebagai seorang hamba, kita harus mengetahui untuk apa kita diciptakan. Bagaimana kewajiban kita sebagai seorang hamba kepada Rabb-nya. Maka dari itu, kita perlu mengetahui tujuan kita diciptakan oleh Allah. Insya Allah melalui tulisan yang singkat ini, saya bermaksud mengajak anda untuk memahami hak Allah atas hamba-Nya.

Untuk apa Allah menciptakan kita? Sesungguhnya Allah menciptakan kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 56).

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” (Mutafaqqun ‘Alaih). Jadi, kita semua dituntut untuk hanya beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dalam sesuatu apa pun.

Apakah yang dimaksud dengan ibadah? Ibadah adalah sebuah istilah yang di dalamnya terkandung semua hal yang Allah cintai baik dalam perkataan maupun  perbuatan. Contohnya dalam berdoa, shalat, berkurban dan selainnya. Allah Ta’ala berfirman

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’ “ (Q.S. Al-An’am : 162).

وَنُسُكِي, kata ini berarti menyembelih hewan kurban.

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, “Dan tidaklah  hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan atasnya” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Bagaimana kita beribadah kepada Allah? Beribadah kepada Allah haruslah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Q.S. Muhammad : 33).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak sesuai urusan kami (tidak ada contohnya dari kami), maka ia tertolak”(Diriwayatkan oleh Muslim). Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Karena jika kita melakukan amalan tanpa perintah (dalil), maka amalan itu tertolak sehingga apa yang kita lakukan adalah sia-sia dan tidak akan diterima.

Apakah kita beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap? Iya, kita harus senantiasa beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap. Berfirman Allah Ta’ala

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. As-Sajdah : 16).

Ayat di atas menggambarkan sifat seorang mukmin yang memiliki rasa takut dan rasa harap dalam setiap ibadahnya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Aku meminta kepada Allah surga dan aku berlindung kepada Allah dari neraka” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Apakah yang dimaksud dengan ihsan dalam ibadah? Ihsan dalam ibadah adalah engkau merasa diawasi oleh Allah dalam ibadah. Allah Ta’ala berfirman

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud” (Q.S. Asy-Syu’araa’ :218-219).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau mampu melihat-Nya, apabila kamu tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihatmu” (Diriwayatkan oleh Muslim).

Maka apabila di dalam diri seseorang telah tertanam sikap muroqobah (merasa diawasi), maka hal itu akan menanamkan sikap musyahadah pada seseorang, yakni senantiasa ingin beribadah kepada Allah. Dan akan menumbuhkan sifat ihsan dalam diri seseorang sehingga akan memotivasi seseorang dalam beribadah kepada Allah.

Jadi, sudah selayaknya kita mengetahui kewajiban yang harus kita penuhi kepada Allah dalam menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang selalu termotivasi dalam melakukan kebaikan dimana pun kita berada. Semoga kita selalu bersemangat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Disarikan dari kitab “Khudz Aqidataka minal Kitabi was Sunnah Ash-Shahihah”, oleh Muhammad bin Jamil Zainu

Diselesaikan di siang hari yang mendung, Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

05 Jumadits Tsani 1431 H, 19 Mei 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)