Al-Hafizh Ibnu Hajr rahimahullah adalah Hakim Agung Mesir pada zamannya. Jika dia berangkat ke tempat kerjanya dia mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau baghl-baghl dalam sebuah pengawalan. Suatu hari seorang laki-laki penjual minyak (biasanya penjual minyak berpakaian kotor) yang beragama Yahudi menghentikan kereta Ibnu Hajr. Dia berkata kepada Ibnu Hajr, “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir’ Engkau adalah Hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam adzab dan kesengsaraan.”

Ibnu Hajr rahimahullah menjawab, “Aku dengan nikmat dan kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan Surga adalah penjara. Dan kamu dengan kesengsaraan yang kamu rasakan itu dibandingkan dengan adzab Neraka dalah Surga.”

Orang Yahudi itu lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

***

Disini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir. Karena jika kita bandingkan kenikmatan di dunia, hal itu tidaklah dapat dibandingkan dengan kenikmatan yang Allah janjikan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Sebaliknya, dunia menjadi Surga bagi orang kafir karena kesengsaraan mereka di dunia adalah kecil sekali dibandingkan dengan kesengsaraan dan adzab yang Allah berikan kepada mereka karena mereka ingkar kepada Allah.

Sungguh bijak perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajr rahimahullah dalam menjawab pertanyaan orang Yahudi tersebut sehingga orang Yahudi tersebut masuk Islam. Seperti itulah sikap seorang ‘Ulama tetap hikmah dalam berdakwah, meskipun kepada orang kafir. Sepatutnya dan selayaknya untuk kita contoh.