Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Semua  umat muslim bersepakat  bahwa untuk masuk ke dalam agama Islam, wajib mengucapkan kalimat tauhid, yaitu “Laa Ilaha Illallah”. Akan tetapi, realitanya kalimat tersebut hanya lah diucapkan secara lisan saja, tidak diiringi dengan perbuatan. Padahal, kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat agung. Di sini saya mengajak anda untuk sedikit memahami makna dari kalimat tersebut.

Makna Kalimat Tauhid

Makna syahadat “لاإله إلاالله”, yang biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tiada tuhan selain Allah. Namun, makna sebenarnya bukanlah seperti itu, akan tetapi “لامعبود حق إلاالله”, yaitu tidak ada satu pun sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’ala. Maka tidak boleh berdoa kepada selain Allah, tidak boleh shalat, bernadzar, menyembelih hewan kecuali kepada Allah Ta’ala. Dan begitu pula ibadah yang lainnya, tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala.

Seorang ulama ahli hadits yang berasal dari negeri Yaman, Muhammad bin Isma’il Ash-Shan’ani berkata, “Makna dari kalimat syahadat tersebut adalah mengesakan Allah dalam perkara ibadah dan uluhiyah, dan berlepas diri dari setiap apa yang diibadahi kepada selain-Nya”.[1] Dan “الإله”, berarti sesuatu yang disembah dan ditaati dengan rasa cinta, pengagungan, ketundukan, ketakutan dan kepatuhan.

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang sangat agung dan meliputi 2 asas, yaitu

1.      النفي, yaitu menafi’kan (meniadakan) penyembahan dari setiap apa yang disembah selain Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan pada kalimat “لاإله”, yaitu engkau menafi’kan (meniadakan) apa yang disembah selain Allah Ta’ala dalam ibadah.

2.      الإثبات, yaitu menetapkan penyembahan hanya untuk Allah Ta’ala. Hal ini ditunjukkan pada kalimat  “إلاالله”, yaitu engkau menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi tanpa menyekutukan-Nya. Allah ‘azza wa jalla adalah yang berhak untuk diibadahi karena Dia lah dzat yang menciptakan, memberi rizqi, menguasai, dan mengatur seluruh urusan. Maka wajib mengesakan-Nya atas seluruh hal yang mencakup dalam bentuk peribadahan, dengan bentuk ibadah sebagai rasa syukur atas nikmat yang agung terhadap hamba-Nya.

Banyak nash yang menunjukkan atas faedah dan keutamaan yang agung dari kalimat tauhid “لاإله إلاالله”, diantaranya adalah status sebagai orang Islam bagi orang yang mengucapkannya, terjaganya darah, harta dan kehormatannya, dimasukkan ke dalam surga dan tidak kekal di dalam neraka.[2]

Maka perkara yang pertama kali disyaratkan agar seseorang dapat masuk islam adalah dengan mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat syahadat adalah kalimat keikhlasan yang di dalamnya terkandung an-nafyu wal itsbat. Sehingga batalah semua amal jika tanpa kalimat syahadat tersebut. Karena salah satu syarat diterimanya suatu amal adalah keikhlasan mengharap wajah Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib menetapkan bahwa Allah lah yang berhak untuk disembah dan diibadahi tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya sesembahan di dunia ini sangatlah banyak, tetapi semua itu tertolak dan batal karena semua yang disembah  selain Allah adalah sesembahan bathil.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

20 Dzulhijjah 1431 H, 26 November 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] Kitab Tahdzib Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal.32 karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin

[2] Kitab Tahdzib Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal.33 karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin