Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa pada hari kiamat kelak manusia akan ditanya tentang ilmu yang mereka dapatkan. Untuk apa ilmu tersebut? Dari Abu Barzah  Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga mereka ditanya tentang empat hal…(dan Nabi menyebutkan diantaranya adalah) tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan?”[1]

Abu Darda’ berkata, “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan pada hari kiamat adalah ketika Rabb ku memanggilku di hadapan seluruh makhluk, kemudian Dia berkata,’Wahai ‘Uwaimir (nama asli Abu Darda’, pent.)! Apa yang engkau amalkan dari ilmu yang telah engkau ketahui?’”

Hal ini adalah perkara yang besar, kengerian dan kekhawatiran yang besar, karena setiap ilmu yang didapat oleh seorang hamba akan ditanya pada hari kiamat: “Ilmu mu diamalkan untuk apa?” Sesungguhnya maksud dari ilmu adalah untuk diamalkan, maka setiap manusia akan ditanya untuk apa ilmunya.

Dari riwayat salaf lainnya, “Seandainya aku selamat dari ilmu (ilmu yang telah beliau pelajari, pent.), maka impas lah, tidak menguntungkanku dan tidak pula membahayakanku”. Hal ini menunjukkan sangat wara’ (sikap hati-hati, pent.) nya para salaf dan betapa takutnya mereka meskipun mereka memiliki ilmu dan amal yang baik. Sebagaimana perkataan Al Hasan Al Bashri rahimahullah, “Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan di antara kebaikan dan rasa takut (akan amalan yang tidak diterima) dan orang munafiq mengumpulkan di antara jeleknya beramal (dosa) dan banyaknya angan-angan”.  Juga perkataan ‘Abdullah bin Abi Mulaikah rahimahullah, “Aku menjumpai lebih dari 30 shahabat dan mereka semua takut diri mereka terjangkit kemunafiqan”.[2]

Maka Allah mengumpulkan mereka di antara kedudukan yang agung, yaitu kebaikan dalam beramal dan sebaik-baik dalam keta’atan. Dan sekaligus rasa takut mereka kepada Allah seandainya amalan mereka diterima atau tidak. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut dan yakin bahwa sesungguhnya hanya kepada Rabb mereka akan kembali”.[3]

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, apakah mereka adalah peminum khamr atau pezina atau pencuri? Maka beliau menjawab, ‘Tidak wahai putri Abu Bakr Ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang yang puasa, shalat, bersedekah namun takut amal mereka tersebut tidak diterima, mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan’”.[4]

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan ketika Ibrahim meninggikan pondasi dari Baitullah bersama Ismail dan seraya berdoa ‘Wahai Rabb kami terimalah amalan kami’”.[5] Wuhaib bin Warad rahimahullah ketika membaca ayat ini dan beliau menangis, ia berkata, “Wahai Khalilurrahman! Engkau meninggikan Baiturrahman namun engkau khawatir jika amalan engkau tidak diterima.”[6]

Disadur dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi karya Syaikh Abdurrozak bin Abdul Muhsin, dengan sedikit perubahan redaksi

***

Sebuah faedah yang penting bagi para penuntut ilmu dimana memiliki kewajiban untuk mengamalkan ilmunya. Karena sebelum mendakwahkannya, kita hendaknya mengamalkannya terlebih dahulu. Bagaimana kita bisa mengajak seseorang ke jalan kebenaran, namun kita sendiri tidak mengamalkannya?

Perlu diingat, ilmu bukanlah hanya sekedar hiasan di lisan dan banyaknya hapalan, namun rasa takut kita kepada Allah Ta’ala. Semakin tinggi kadar ilmu seseorang, maka semakin tinggi pula kadar rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ‘ulama (orang yang berilmu).”[7]

Lupakah kita terdapat ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya? Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan[8]

Coba kita lihat para salaf dimana mereka memiliki keutamaan yang lebih dibanding kita, tetapi mereka masih khawatir dan takut, apakah amalan mereka diterima atau tidak. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Mereka para salaf lebih berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal”.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah sampai kepadaku satu hadits dari Rasulullah, kecuali aku telah mengamalkannya”. ‘Amr bin Qois rahimahullah berkata, “Jika telah sampai suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalkanlah meskipun hanya sekali dalam hidupmu sehingga engkau termasuk orang yang mengamalkannya.”[9]

Lihatlah semangat para salaf dalam mengamalkan ilmu, mereka bersemangat dan bersegera dalam mengamalkan ilmu, sudah sepantasnya kita merenungi apakah kita termasuk orang yang memperhatikan amal, atau lalai dalam beramal. Dan jangan sampai kita termasuk orang yang sibuk menasehati orang lain, namun melupakan diri sendiri. Ibarat lilin yang menerangi di sekitarnya, namun membakar dirinya sendiri.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

20 Dzulhijjah 1431 H, 26 November 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2418), dan beliau berkata : ” Hasan Shahih”

[2] Shahih Al-Bukhari secara Mu’allaq dalam Bab Takutnya Mukmin Akan Terhapusnya Amal Sedangkan Dia Tidak Mengetahuinya (1/110, dalam Fathul Bari)

[3] Al-Mukminun ayat 60

[4] Riwayat At-Tirmidzi No. 3175

[5] Al-Baqarah ayat 127

[6] Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya (1/233)

[7] Fathir ayat 28

[8] Ash-Shaf ayat 2-3

[9] Tsamaratul ‘Ilmi, Syaikh Abdurrozak, hal.27

Iklan