Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Ibadah kepada Allah ‘Azza wa jalla haruslah mencakup dari tiga bagian, yaitu dengan rasa cinta, rasa takut dan rasa harap kepada Allah Ta’ala. Maka seorang muslim wajib beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, takut akan siksa-Nya dan berharap pahala-Nya. Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa cinta saja, maka ia Zindiq (sufi ekstrim), apabila hanya dengan rasa takut, maka ia Haruriy (khawarij), apabila hanya dengan rasa harap, maka ia Murji’ah. Dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, takut dan harap, maka ia adalah mukmin.” Marilah kita membahas satu per satu bagian tersebut.

1. Rasa Cinta

Ini adalah rukun yang paling penting dalam ibadah. Maka setiap hamba wajib mencintai Allah Ta’ala, mencintai semua hal yang dicintai oleh Allah, yaitu keta’atan kepada-Nya, dan membenci semua apa yang dibenci Allah, yaitu kemaksiatan. Mencintai semua wali-wali Allah yaitu orang-orang yang beriman, yang penghulu mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Membenci semua musuh Allah dari golongan orang-orang kafir dan munafiq. Dan semua hal ini adalah wajib bagi setiap muslim dan tidak ada pilihan lain baginya.

Seorang muslim wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya sebagaimana ia mencintai dirinya, anak-anaknya, hartanya dan semua hal yang ia cintai. Namun cintanya kepada Allah haruslah lebih besar dibandingkan cintanya kepada apa pun. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”[1]

Rasa cinta kepada Allah jika tertanam kuat dalam hati seorang hamba, maka akan mendorong anggota badan untuk melakukan keta’atan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Bahkan akan menemukan kelezatan dan ketenangan di dalam hatinya ketika beribadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tentram.”[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berdiri wahai Bilal, tentramkan hati kami dengan shalat.” Dan juga bersabda, “Dijadikan kesejukan pandanganku di dalam shalat.” Oleh karena itu, barangsiapa yang ta’at kepada Allah, menjauhi maksiat, senantiasa mengingat-Nya, mengerjakan ibadah-ibadah sunnah karena cinta kepada Allah, takut kepada-Nya dan megharap pahala-Nya, maka ia akan hidup di dalam kebahagiaan dan dada yang lapang. Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”[3]

Jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah, maka berkuranglah rasa cinta kepada Allah sesuai dengan kadar maksiatnya. Salah satu ciri lemahnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah ketika ia terus-menerus bermaksiat dan tidak bertaubat dari maksiat. Semakin banyak ia bermaksiat, semakin lemahlah rasa cintanya kepada Allah. Apabila ia mengaku cinta kepada Allah, akan tetapi terus-menerus bermaksiat, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya.  Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”[4] Maka orang yang mencintai Allah secara hakiki, ia akan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berhenti pada apa yang telah dilarang oleh beliau. Sebagian ‘ulama berkata, “Barangsiapa yang mengaku cinta kepada Allah, namun tidak menjaga hukum-hukum Allah, ketahuilah bahwa ia adalah seorang Pendusta.”

Terkadang setan mengganggu seorang hamba ketika beribadah kepada Allah dengan memberikan rasa was-was. Maka engkau jumpai hamba tersebut boleh jadi ketika ia shalat, atau mengingat dan berdoa kepada Allah, akan tetapi hatinya lalai. Sehingga ibadah tersebut lebih dekat pada sebuah rutinitas daripada ibadah yang hakiki.

Maka engkau akan jumpai para ahli maksiat memiliki hati yang keras dan kasar. Jiwa mereka merasa tidak tenang dan lapang, bahkan dada mereka terasa sempit dan terus-menerus merasa cemas. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari hari kiamat dalam keadaan buta.”[5]

Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah (yaitu Al-Quran), maka mereka tidak mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan Allah akan mengukumnya dengan kesengsaraan dalam kehidupannya. Maka para pelaku maksiat mencari perlindungan pada hal-hal yang mereka sangka bisa menghilangkan kesempitan hidup, contohnya adalah para pemabuk, pengkonsumsi narkoba, perokok, orang yang suka melihat gambar porno, mendengarkan nyanyian dan keharaman yang lain. Mereka sangka itu adalah kebahagiaan, padahal hanya membuat hidupnya tambah susah. Maka Allah akan tambahan kesempitan yang sangat sempit kepada mereka. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ampunan-Nya.

Sudah seharusnya setiap hamba bersemangat dalam perkara yang membawa kepada ketaqwaan yang menambah rasa cinta kepada Allah di dalam hatinya. Sehingga hal tersebut menyebabkan seseorang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Disadur dari Kitab Tahdzib Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal.43-46 karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin, dengan perubahan redaksi

Menjelang Ashar, Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

27 Dzulhijjah 1431 H, 03 Desember 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] At-Taubah ayat 24

[2] Ar-Ra’d ayat 28

[3] An-Nahl ayat 97

[4] ‘Ali ‘Imran ayat 31

[5] Taha ayat 124