Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Sedikit tergelitik mendengar kata “rihlah”, yang dalam bahasa Indonesia berarti melakukan perjalanan. Namun bukanlah jalan-jalan itu sendiri yang menjadi permasalahannya, akan tetapi isi dari kegiatan tersebut. Nama yang “islami” bukanlah menjadikan kegiatan itu menjadi benar, namun yang menjadi tolak ukur kebenaran adalah apa yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Mungkin sebagian orang bingung kenapa kata “rihlah” yang menjadi bahasan. Karena kata tersebut identik dengan kegiatan sebagian aktivis Islam yang menisbatkan diri dalam dakwah Islam. Terus, apa hubungannya dengan masalah yang ada di dalam kegiatan tersebut? Di sini saya hanya sedikit membuka pikiran anda dalam menyikapi hal ini. Dan tulisan ini terinspirasi dari seorang teman saya yang mengalami hal tersebut.

Hal ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi sebagian orang awam. Namun hal ini menjadi sangat tidak biasa bagi sebagian orang yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Karena mereka pasti telah mengerti hukum-hukum Islam. Dan di sini saya akan sedikit membahas fenomena “rihlah” di antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana pandangan Islam mengenai hal ini.

Dalam hukum Islam, kegiatan rihlah merupakan hal yang mubah. Namun perlu diingat, mubah adalah bukan sesuatu yang dianjurkan, apalagi wajib, akan tetapi hanya sekedar dibolehkan. Jadi tidak benar jika dalam suatu organisasi haruslah ada rencana kegiatan jalan-jalan di akhir programnya dengan sebutan “tafakur alam”.

Sebenarnya hal ini bukanlah menjadi suatu masalah, namun yang menjadi masalah adalah ketika kegiatan tersebut mengikutsertakan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini akan menyebabkan ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, pent.) dan ikhtilath hukumnya dalah haram.

Dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari, dari bapaknya sesungguhnya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata ketika beliau keluar dari masjid sedangkan sekumpulan laki-laki bersama sekumpulan perempuan berikhtilath (campur baur) di jalan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para perempuan, “Menyingkirlah kalian, sesungguhnya bukanlah hak kalian berada di tengah jalan, kalian wajib berada di pinggir jalan.” Maka para perempuan merapat ke tembok/dinding, sampai-sampai baju mereka terkait di tembok saking rapatnya.[1]

Lihatlah, betapa kerasnya Rasulullah terhadap perempuan yang bercampur baur dengan laki-laki. Sampai-sampai melarang perempuan untuk berjalan di tengan jalan. Namun hal ini tidak hanya berlaku di jalan saja, namun di semua tempat. Nah bagaimanakah dengan perjalanan antara laki-laki dan perempuan?

Selain itu mereka yang melakukan kegiatan rihlah[2], terkadang menuju tempat yang agak jauh. Untuk itu, mereka harus bersafar untuk pergi ke tempat tersebut. Bukankah ini menyelisihi perintah Allah kepada para perempuan untuk tetap berada di rumahnya? Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.”[3] Perempuan hanya dibolehkan untuk keluar rumah jika ada kebutuhan yang sangat penting.

Mungkin ada sebagian yang berkata bahwa tempat yang dituju akan memberikan dampak positif kegiatan tafakur alam, seperti dapat merenungkan kebesaran dan keagungan Allah yang ada di alam semesta ini. Tapi coba sekali-kali kita berpikir untuk membandingkan dampak negatif yang terjadi. Apakah kegiatan tersebut pahalanya jauh lebih besar ketimbang dosa yang di dapat? Karena perjalanan tersebut dilakukan oleh perempuan tanpa mahram.

Bagaimana hukum perempuan bepergian tanpa mahramnya? Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali bersama mahramnya.” Seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin keluar bersama pasukan ini dan ini (pergi berperang, pent.), akan tetapi istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Maka Rasulullah menjawab, “Keluar engkau bersama istrimu (menunaikan ibadah haji, pent.).”[4]

Melihat beberapa kekeliruan di atas, hendaklah kita berhati-hati dalam setiap hal yang kita lakukan. Bisa jadi yang menurut kita adalah suatu kebenaran, namun di kaca mata syari’at merupakan suatu pelanggaran. Hendaknya kita tetap bertaqwa di mana pun kita berada, tidak melanggar perkara yang telah di haramkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hendaknya para laki-laki menjaga dirinya dan begitu juga sebaliknya bagi kaum perempuan.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannnya, dan memelihara kemaluannya’. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada perempuan yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannnya, dan memelihara kemaluannya.’ Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat.”[5]

Pembahasan tentang hal ini mungkin telah banyak dibahas secara detail oleh yang lainnya. Dan saya sendiri hanya mencukupkan sebatas pengetahuan saya tentang hal ini. Merupakan suatu perintah untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Saya memohon kepada Allah untuk senantiasa menjaga kita semua dan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Waktu Dhuha, Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

16 Muharram 1432 H, 22 Desember 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, hal 95

[2] Berdasarkan data yang saya kumpulkan dari teman-teman saya yang pernah mengikuti kegiatan tersebut

[3] Al-Ahzab ayat 33

[4] Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, hal.73

[5] An-Nur ayat 30-31