Diriwayatkan dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia bertemu Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu. Umar bertanya, “Bagaimana dirimu, wahai Hudzaifah?” Hudzaifah menjawab, “Aku mencintai fitnah, membenci kebenaran, shalat tanpa wudhu, dan di bumi ini aku memiliki sesuatu yang tidak Allah miliki di langit.”

Umar marah besar. Dia mendatangi Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Ali bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, ada bekas marah di wajahmu.” Umar lalu menceritakan ucapan Hudzaifah. Ali berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin. Dia mencintai fitnah, maksudnya anak-anak dan wanita. Dia membenci kebenaran, yakni kematian. Dia shalat tanpa wudhu, maksudnya ia bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setiap waktu tanpa wudhu. Dia memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit, yakni beristri dan beranak, sementara Allah tidak beristri dan beranak.”

Umar berkata, “Kamu benar dan baik, wahai Abu Hasan. Kamu telah menghilangkan apa yang ada di hatiku kepada Hudzaifah.”

***

Sungguh indah kisah di atas, dimana para shahabat mencandai shahabat yang lain. Tidaklah benar bahwa para shahabat tidak pernah bercanda, buktinya adalah kisah di atas. Namun candaan yang dimaksud adalah bukan suatu candaan yang bathil. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan kaumnya tertawa, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.”[1]

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”[2] Supaya pembaca tidak merasa bingung, akan saya jelaskan sedikit dalil yang menjadi dasar perkataan Hudzaifah.

Penjelasan bahwa anak-anak menjadi salah satu fitnah adalah dalam firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati / waspadalah kalian dari mereka.”[3]

Dan merupakan kebenaran adalah kematian. Allah Ta’ala berfirman, “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian[4] Kemudian dalil tegas bahwa Allah tidak memilik istri dan anak adalah firman Allah Ta’ala, “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”[5]

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah shahabat di atas. Karena tidak ada pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling baik selain mereka dan tidak ada generasi yang paling mulia selain mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah”.[6]


[1] (Diriwatkan oleh At-Tirmidzi, hadits hasan)

[2] Al-Baqarah ayat 42

[3] At-Taghabun ayat 14

[4] ‘Ali-Imran ayat 185

[5] Al-Ikhlash ayat 3

[6] At-taubah ayat 100