Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Beberapa waktu yang telah lewat, kita telah membahas salah satu rukun ibadah, yaitu berupa rasa cinta. Masih tersisa 2 pembahasan lagi, yaitu rasa takut dan rasa harap. Mari kita telaah lebih jauh.

2. Rasa Takut

Rasa takut adalah hati merasa pedih atau sakit akibat melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah. Maka wajib setiap muslim untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan takut dari siksa-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu termasuk orang-orang yang beriman.”[1] Allah Ta’ala juga berfirman, “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.”[2] Dan juga berfirman, “Dan takutlah kepada-Ku saja.”[3]

Dan rasa takut kepada Allah Ta’ala akan semakin bertambah dan semakin agung di sisi seorang hamba karena beberapa hal di bawah ini:

a. Mengenal Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya. Jika engkau lebih mengenal Allah, maka engkau akan lebih merasa takut dengan-Nya.

b. Membenarkan janji Allah Ta’ala bahwa sesungguhnya Allah akan mengadzab hamba yang bermaksiat kepada-Nya karena meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perkara yang haram.

c. Mengetahui betapa keras siksa Allah jika engkau bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba tidak akan mampu menanggung adzab yang Allah timpakan kepadanya. Hal ini terdapat pada banyak ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi yang di dalamnya terdapat ancaman dan larangan, hari akhir dan hari pembalasan, siksa kubur dan siksa neraka.

d. Menjauhi maksiat kepada Allah Ta’ala lebih didahulukan daripada mengerjakn perintah-Nya.

e. Rasa takut kepada Allah menyebabkan engkau bertaubat kepada Allah dengan sebab dosa yang engkau lakukan. Atau engkau akan mati dalam keadaan su’ul khatimah jika engkau terus-menerus bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Kuatnya iman seorang hamba dan yakin bahwa Allah akan mengadzab dengan adzab yang keras bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya, karena sangat takutnya terhadap adzab Allah Ta’ala. Sebagian ‘ulama berkata, “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah, maka ia akan lebih takut kepada Allah.” Dan rasa takut yang terpuji dan benar adalah ketakutan yang bisa menghalangi seorang hamba untuk bermaksiat kepada Allah.

3. Rasa Harap

Rasa harap adalah meminta pahala dan ampunan dari Allah Ta’ala dan kasih sayang-Nya. Maka wajib setiap muslim beribadah kepada Allah dengan mengharap pahala-Nya. Dan bertaubat di kala ia terjatuh ke dalam dosa dengan mengharap ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada-Nya dengan penuh rasa takut dan rasa harap.”[4] Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada kami.”[5]

Dan rasa harap itu terbagi atas 3 macam:

a. Berharap untuk lebih ta’at kepada Allah agar Allah menerima amalnya, dan menjadikannya dalam kemenangan di surga dan selamat dari api neraka.

b. Berharap dari dosa-dosanya agar Allah menerima taubatnya dengan memberikan ampunan dan maaf-Nya.

c. Ia tenggelam ke dalam dosa karena kecerobohan di dalam perkara yang wajib dan terjatuh ke dalam perkara yang haram, di samping itu ia juga berharap kasih sayang Allah. Maka ini adalah tipuan, angan-angan dan harapan kosong.

Pada poin a dan b, keduanya termasuk rasa harap yang terpuji. Karena ia berharap agar bisa lebih ta’at lagi kepada Allah dan senantiasa bertaubat kepada-Nya. Sedangkan pada poin c merupakan rasa harap yang tercela, karena ia berharap kasih sayang Allah, sementara ia selalu melalaikan hukum-hukum Allah. Bagaimana bisa ia mendapat ampunan-Nya apabila ia terus-menerus melakukan maksiat?

Abul Utsman Al Jauzi berkata, “Di antara ciri-ciri kebahagiaan adalah engkau merasa takut apabila Allah tidak menerima amalanmu, dan tanda-tanda kesengsaraan adalah engkau bermaksiat namun engkau mengharap keselamatan.” Dan keadaan terakhir merupakan suatu hal yang tercela, seperti engkau menginginkan anak tapi tidak ingin menikah. Dan dia termasuk sejahil-jahilnya makhluk.

Sudah menjadi kewajiban setiap muslim mengumpulkan 3 macam rukun ibadah di atas, yaitu rasa cinta, rasa takut dan rasa harap. Rasa cinta dalam beribadah kepada Alah Ta’ala, rasa takut akan siksaan-Nya dan rasa harap terhadap pahala-Nya.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Disadur dari Kitab Tahdzib Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyah, hal.47-49 karya Syaikh Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin dengan sedikit perubahan redaksi

Waktu Dhuha, Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

01 Muharram 1432 H, 07 Desember 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] ‘Ali ‘Imran ayat 175

[2] Al-Maidah ayat 44

[3] Al-Baqarah ayat 40

[4] Al-A’raf ayat 56

[5] Al-Anbiya’ ayat 90