Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Seringkali kita mendengar kata ini, bahkan sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun apakah kita mengetahui apa itu sihir? Bagaimana bahaya dari sihir itu sendiri? Mari kita bahas secara singkat.

Mengenal Sihir

Sihir secara bahasa digunakan untuk segala sesuatu hal yang sebabnya samar, lembut dan tidak jelas. Adapun secara istilah, dikarenakan sihir memiliki berbagai macam bentuk dan caranya berbeda-beda, maka tidak ada definisi yang lengkap mencakup makna sihir. Di dalam kitab Adhwa-ul Bayan dijelaskan, “Ketahuilah, sesungguhnya sihir itu secara istilah tidak mungkin di definisikan dengan satu definisi yang lengkap mencakup semua jenis sihir dan mencegah yang bukan termasuk bagian sihir untuk masuk ke dalam bagian dari definisi tersebut, dikarenakan jenisnya yang banyak dan berbeda-beda yang masuk ke dalam istilah sihir. Tidak akan terwujud titik kesamaan di antara jenis sihir yang bisa mencakup semua macam jenis dan mencegah hal-hal yang termasuk sihir untuk masuk ke dalam definisi sihir. Dan ‘ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan istilah tersebut, dengan perbedaan yang sangat mencolok.”[1]

Sihir merupakan ungkapan mengasap-asap, menyusun-nyusun, atau mengikat-ikat dan perbuatan lain yang dilakukan oleh tukang sihir yang telah kafir kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada setan, dan akan berpengaruh kepada yang disihir dengan izin Allah Ta’ala. Ibnul Qayyim berkata, “Sihir adalah ungkapan dari pengaruh jiwa yang buruk dan kuatnya tabi’at dari pengaruh perbuatan sihir.”[2]

Tidak ada satu kaum pun kecuali Allah telah mengutus seorang Rasul untuk menyeru beribadah hanya kepada Allah Ta’ala semata dan melarang mereka untuk menyekutukan Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan (rasul).”[3]

Setiap umat yang telah diutus seorang rasul selalu mengejek utusan tersebut. Menuduhnya dengan tuduhan sebagai tukang sihir, hal ini menunjukkan bahwa umat-umat terdahulu telah mengenal sihir, semenjak manusia tersebar di muka bumi yang terjadi di sepanjang berlalunya waktu dan bergantinya generasi di sepanjang zaman, Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah setiap kali seorang Rasul yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia itu tukang dihir atau orang gila’”.[4]

Ibnu Hajr berkata, “Sihir itu ada pada zaman Nabi Nuh ketika Allah telah mengabarkan bahwa kaum Nabi Nuh menuduh beliau sebagai tukang sihir. Kisah Harut dan Marut yang terjadi sebelum kisah Nabi Nuh atas apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan yang lainnya.”[5]

Dan sihir terkadang tersebar di suatu umat, dan terkadang sedikit tersebat panampakannya pada umat yang lain. Pada zaman Nabi Musa, tukang sihir sangat terkenal. Mereka menantang Nabi Musa dengan sihir mereka. Ibnu Khaldun berkata, “Tukang sihir di Babilonia dan Mesir pada zaman diutusnya Nabi Musa ‘alahis salam merupakan sesuatu yang laris di pasaran (banyak dicari dan tersebar, pent.).”[6]

Bahaya Sihir

Sesuatu yang dimiliki oleh setiap muslim di dunia ini lebih mahal dibanding apa pun adalah agamanya. Orang yang berakal pasti menjaga agamanya dan tidak akan pernah ridha dengan perbuatan yang dapat merusak atau melemahkan atau mengotori aqidahnya. Melakukan sihir dan pergi untuk meminta tukang sihir untuk melakukan sihir dapat membahayakan aqidah, bahkan meminta tukang sihir untuk melakukan sihir menjadi salah satu penyebab batalnya Islam seseorang.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Pembatal keislaman yang ke tujuh adalah sihir. Dan di antara bentuk sihir adalah as-sorfu[7] atau al-‘athfu[8], barangsiapa melakukannya atau ridha dengannya, maka dia telah kafir, dan dalilnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah keduanya (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada seseorang hingga mereka mengatakan, ‘sesungguhnya kami adalah ujian bagi kalian maka janganlah kamu kafir’”.[9]

Maka tukang sihir dan orang yang pergi ke tukang sihir untuk minta disihirkan, keduanya dihukumi sama. Dan sihir merupakan suatu keharaman dalam semua ajaran Rasul. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana pun ia datang.”[10] Barangsiapa yang telah melakukan sihir, maka ia telah terjerumus dalam kesyirikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka ia telah Syirik.”[11]

Sihir adalah perbuatan yang merusak agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah 7 hal yang membinasakan.” Mereka (para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Perkara apakah itu?’ Rasulullah bersabda, “Menyekutukan Allah, perbuatan sihir, membunuh jiwa yang diharmakan Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, kabur dari perang (saat berkecamuk), menuduh wanita beriman yang lalai (tidak terpikirkan untuk berzina, pent.).” (Mutafaqun ‘alaih)

Sihir mengumpulkan hal-hal yang bisa menghancurkan agama, di antaranya meminta tolong kepada jin dan syaithan, menggantungkan jimat dan kalung jimat, menggantungkan hati dengan takut kepada selain Allah, meninggalkan hanya bertawakkal kepada Allah, merusak kehidupan manusia dan kemashlahatan, serta menyelisihi dalil-dalil syari’at yang melarang sihir. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”[12]

Begitu besar dampak sihir dan bahaya sihir bagi seorang muslim. Tidak hanya merusak aqidah seseorang, namun dapat membatalkan seseorang dari keislamannya. Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjauhi perkara ini. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari keburukan sihir dan para tukang sihir.

Segala puji bagi Allah. Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

Disadur dari kitab Ba’i-u Diinihi karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qosam

Diselesaikan di waktu dhuha, Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi, Yogyakarta

14 Muharram 1432 H, 20 Desember 2010 M

Wiwit Hardi Priyanto (Abul Aswad)


[1] Adhwa-ul Bayan, 4/444

[2] Zaadul Ma’ad, 4/125

[3] Fathir ayat 24

[4] Adz-Dzariyat ayat 52

[5] Fathul Baari, 10/223

[6] Muqaddimah Ibnu Khaldun, 927

[7] Salah satu jenis sihir yang bisa membuat seseorang yang pada awalnya cinta menjadi benci

[8] Sihir yang mengakibatkan benci jadi cinta, biasa disebut dengan pelet

[9] Al-Baqarah ayat 102

[10] Taha ayat 69

[11] Diriwatkan An-Nasa-I, beliau berkata dalam Fathul Majid (231) : Ini adalah dalil tegas bahwa tukang sihir adalah Musyrik

[12] Al-A’raf ayat 56