Hari raya ‘Iedul Adha. Ya, itu merupakan hari raya bagi umat Islam selain hari raya ‘Iedul Fitri. Hari dimana umat Islam yang berada di Mekkah sana melaksanakan ibadah haji. Hari dimana berbagi kebahagiaan di antara kaum muslimin. Dan yang paling berkesan adalah saat penyembelihan hewan kurban. Umat islam bergotong royong, saling membantu satu sama lain. Hal ini terlihat ketika penyembelihan dimulai hingga pembagian daging hasil sembelihan.

Mungkin cukup itu saja pembukaan tulisan ini. Jika kita tilik lebih jauh, sejarah penyembelihan kurban itu sendiri berasal dari kisah Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail ‘alaihimash shalatu wa sallam. Jika kita mau merenungi, banyak sekali keteladanan  yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim ‘alaihish shalatu wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh, Ibrahim adalah seorang Imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah).” (QS. An-Nahl: 120) Mari kita bahas satu per satu.

Sebagai Teladan

Nabi Ibrahim disebut dengan Abul Anbiya (bapaknya para nabi). Tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim kecuali semuanya berasal dari keturunan Beliau. Nabi Ibrahim disebut juga seorang Imam karena beliau menjadi teladan bagi kita semua. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan di surat Al-Furqan ayat 74 yang artinya, “Dan jadikanlah kami sebagai Imam (pemimpin) bagi orang yang bertakwa.” Yang dimaksud Imam pada ayat di atas adalah dijadikan sebagai teladan bagi orang-orang yang hidup sesudahnya.

Qaanitan

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang patuh. Dimana ia mendahulukan perintah Allah dengan cara manta’atinya. Siapa yang tidak kenal dengan kisah Beliau yang meninggalkan istrinya (Hajr) dan putranya (Nabi Ismail), di tanah yang gersang tanpa meninggalkan bekal apa pun. Hal ini menunjukkan rasa bahwa cinta Beliau kepada Allah melebihi rasa cintanya terhadap istri dan anaknya. Padahal kita tahu bahwa istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia. Yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya.

Hanif

Beliau adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. Jadi sudah sepantasnya dan seharusnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar ini.

Bukanlah Seorang Musyrik

Nabi Ibrahim bukanlah termasuk orang yang menyekutukan Allah. Ada anggapan keliru bahwa Nabi Ibrahim pernah bingung terhadap Tuhannya. Ayat ini membantah bahwa Beliau tidaklah pernah sama sekali menyekutukan Allah. Namun kita lihat praktek umat Islam jaman sekarang, masih banyak di antara umat Islam yang melakukan amalan menuju kesyirikan, bahkan telah mencapai derajat kesyirikan itu sendiri. Padahal kesyirikan adalah dosa yang tak terampuni dan pelakunya akan kekal di dalam neraka.

Sungguh ayat yang telah disebutkan di atas pertama kali menunjukkan keteladanan seorang Nabi Ibrahim. Kita sebagai umat Islam yang mengaku beriman kepada Beliau, hendaknya menjadikan Beliau sebagai teladan kita. Oleh karena itu, sepatutnya bagi kita mencontoh Beliau, karena Beliau adalah Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah Ta’ala. Jika kita hendak dicintai oleh Allah Ta’ala, maka contohlah Nabi Ibrahim. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan hidayah kepada kita semua. Amin.

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari isi khutbah ‘iedul adha Al-Ustadz Aris Munandar Hafizhahullahu Ta’ala.