Mungkin yang ada di benak kita saat ini, sombong itu seperti orang yang suka pamer, suka membangga-banggakan diri dan sebagainya. Yah, tidak salah juga. Namun definisi sombong yang tepat ialah seperti apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Al-Kibr (Kesombongan) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)

Nah, itulah definisi yang tepat tentang kesombongan, bisa jadi karena menolak kebenaran, atau karena merendahkan (menganggap remeh) orang lain. Sifat sombong itu tersembunyi. Bisa jadi diri kita sendiri pun tidak mengetahuinya. Maka sepatutnya kita semua selalu mengintrospeksi diri kita sendiri, sebelum kita menilai orang lain.

Yang pertama adalah menolak kebenaran. Betapa banyak manusia di jaman sekarang menolak kebenaran yang disampaikan kepadanya. Boleh jadi karena ia malu menerima kebenaran, atau bahkan karena sombong terhadap kebenaran itu sendiri. Hal ini adalah sesuatu yang sangat sulit –kecuali yang dirahmati oleh Allah Ta’ala-, karena pada hakikatnya seorang manusia memiliki harga diri yang tidak ingin merasa dikalahkan oleh orang lain.

Namun sebagai seorang hamba Allah, hendaknya ia memiliki sifat Taslim (menerima), maksudnya ia harus tunduk terhadap kebenaran dan tidak boleh ia menolak kebenaran dengan ra’yu (pendapat) ia pribadi. Ia harus berserah diri dengan kebenaran yang telah disampaikan kepadanya, tanpa melihat siapa yang menyampaikan, namun dengan melihat isi yang disampaikan.

Sebuah ungkapan yang bagus dalam menerima kebenaran, yaitu terimalah kebenaran dari siapa pun meskipun dari orang yang kau tidak sukai. Memang sulit bagi kita untuk menerima kebenaran yang disampaikan, apalagi yang menyampaikannya adalah orang yang kita benci. Rasa ‘gengsi’ membuat kita enggan dalam menerima kebenaran.

Yang kedua adalah merendakan orang lain. Yang satu ini merupakan salah satu sebab kita menolak kebenaran. Karena boleh jadi apa yang disampaikan kepada kita adalah suatu kebenaran, namun karena alasan harga diri, kita menolaknya. Karena yang menyampaikannya memiliki kedudukan yang lebih rendah di bawah kita. Kita merendahkannya dengan menganggap remeh derajatnya dan apa yang ia sampaikan.

Termasuk sombong kita membantah orang yang mengajari kita dengan adab yang buruk.  Dan termasuk kesombongan pula kita menganggap remeh orang yang baru belajar, atau bahkan orang yang belum pernah belajar sama sekali. Menganggap kedudukan kita lebih tinggi karena kita lebih lama belajar di bandingkan dengan yang baru belajar.

Tidakkah kita takut dengan ancaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tidak akan masuk surga bagi pelaku kesombongan? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kibr (kesombongan) seberat dzarrah.” (HR. Muslim)

Lihatlah perkataan para ulama salaf tentang kesombongan. Abu Wahab Al-Marwazi berkata, aku pernah bertanya kepada Ibnul Mubarak, ‘Apa yang dimaksud dengan al-Kibr?’ Beliau menjawab, “Melecehkan orang lain.” Aku lalu bertanya tentang ujub. Beliau menjawab, “Perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih berbahaya daripada ujub bagi orang-orang yang shalat.”[1]

Ingatlah, bisa jadi seseorang yang melakukan amal kebajikan, namun ia ujub dengan amalannya tersebut, maka itu menjadi salah satu sebab gugurnya amal kebajikan tersebut. Namun bisa jadi seseorang melakukan amal keburukan, tapi ia menyesal dan merasa takut karena dosa tersebut, boleh jadi Allah berikan ampunan dan mencatatkan amalan kebajikan padanya.

Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan, ia akan diluluhkan oleh ilmunya, dan akhirnya menangis menyadari kekurangan dirinya.


[1] Siyar A’lam an-Nubala’, 8/407