Berkata memang mudah, namun mempraktekan sebuah perkataan bukanlah suatu hal yang mudah. Misal saja ada seorang wanita muslimah yang berkata, ‘suatu saat saya akan mengenakan jilbab.’ Suatu saat, tapi kapan?? Niat baik semata tidaklah cukup, namun harus segera diamalkan dengan cara yang benar. Karena menunda-nundanya bukanlah suatu kebaikan. Namun anehnya, jika hal itu perkara dunia, banyak orang yang segera meraihnya. Namun jika hal itu perkara akhirat, seakan-akan bisa nanti-nanti saja. Shilah bin Farwah berkata, “Aku menemukan bahwa sikap menunda-nunda adalah salah satu prajurit iblis yang telah banyak membinasakan makhluk Allah.”[1]

Fenomena yang banyak terjadi, penundaan kebaikan. Padahal Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka, berlomba-lombalah kamu di dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148) Di ayat ini Allah memerintahkan kita untuk berlomba dalam kebaikan, bersegera dalam mengerjakan amal kebajikan. Maka apakah pantas kita menundanya sementara Allah telah memerintahkan kita?

Ketika adzan berkumandang, kita tidak langsung segera mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid. Padahal kita tahu keutamaan shalat sunnah dan keutamaan berada di shaf yang paling depan. Lantas kenapa kita menundanya?? Apakah karena balasan dari Allah yang tidak tampak di mata kita? Kita tahu bahwa mengerjakan shalat berjama’ah di masjid keutamaannya 25 atau 27 kali lipat dibandingkan dengan orang shalat sendirian. Nah, apakah karena 25 atau yang 27 itu tidak tampak, lantas kita kurang bersemangat? Mungkin kita akan segera datang  jika setelah shalat dibagi-bagikan ayam 25 atau 27 ekor.

Padahal shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.” (HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Lihatlah amalan para salaf yang semangat dalam mengerjakan amal kebaikan. Dari Barad, budak Ibnul Musayyib berkata, “Tidaklah adzan untuk shalat dikumandangkan sejak 40 tahun yang lalu, kecuali Sa’id sudah berada di masjid.”[2] Dari Abdul Mun’im bin Idris, dari ayahnya berkata, “Sa’id bin Musayyib melaksanakan shalat shubuh dengan wudhu shalat isya selama 50 tahun.”[3]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah sampai kepadaku satu hadits dari Rasulullah, kecuali aku telah mengamalkannya”. ‘Amr bin Qois rahimahullahberkata, “Jika telah sampai suatu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalkanlah meskipun hanya sekali dalam hidupmu sehingga engkau termasuk orang yang mengamalkannya.”[4]

Hendaknya setiap muslim memiliki semangat di dalam dirinya dalam hal kebaikan. Apalagi kebaikan yang ia lakukan menyangkut kehidupan ia di akhirat kelak, apakah ia akan masuk surga, atau malah masuk ke dalam neraka. Bukankah dalam hal dunia kita semangat dalam meraihnya? Kenapa tidak untuk akhirat?

Terakhir akan saya kutipkan sebuah hadits sebagai nasehat untuk diri saya sendiri dan pembaca sekalian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Bersemangatlah kepada hal-hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau lemah.” (HR. Muslim)


[1] Hilyatul Auliya, 6/42

[2] Shifatush Shafwah, 2/80

[3] Ibid

[4] Tsamaratul ‘Ilmi, Syaikh Abdurrozak, hal.27