Dalam pelajaran Sekolah Dasar dulu, kita mengenal bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan antara satu sama lain. Dalam bahasa Arab, manusia adalah الإنس, sebagian berpendapat kata tersebut berasal dari kata إيناس, yang artinya manusia itu membutukan teman.

Bicara soal teman, mungkin teman yang paling dibutuhkan seseorang dalam jangka waktu yang lama dalah teman hidupnya, alias pasangan nikahnya. Ya, menikah adalah sebuah impian setiap orang (yang masih normal akal dan jiwanya). Menikah juga merupakan fitrah yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya.

Manusia diciptakan berapasang pasangan, bukan untuk menyendiri, alias membujang. Allah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa di ayat yang pertama yang artinya, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa (Adam), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Allah menyebarluaskan (berkembang biak) laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Tidak sebagaimana ajaran agama tertentu, yang menganggap suci orang yang tidak menikah. Justru dengan menikahlah seseorang dapat menjaga kesucian dan kehormatan dirinya. Dikisahkan dalam oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ‘Utsman bin Mazh’un untuk melakukan at-tabattul (yaitu tidak ingin menikah karena ingin fokus beribadah). Lihatlah sikap Nabi, beliau melarang ‘Utsman bin Mazh’un yang ingin tidak menikah, padahal motivasinya untuk tidak menikah adalah untuk bisa fokus beribadah kepada Allah Ta’ala. Bagaimana jika dengan alasan selain itu?

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh ‘Abdurrazak dengan sanad yang shahih, suatu ketika istri ‘Utsman bin Mazh’un mengadu kepada ‘Aisyah, perihal suaminya tidak pernah menyentuhnya di malam hari, karena sibuk dengan ibadahnya. Kemudian Nabi menegur ‘Utsman bin Mazh’un dengan mengatakan, “Wahai ‘Utsman, sesungguhnya ajaran kerahiban (tidak menikah) bukanlah termasuk ajaran Islam, tidakkah cukup diriku sebagai teladan bagimu? Demi Allah, sungguh aku adalah manusia yang paling takut  kepada Allah dan yang paling menjaga hak-hak-Nya di antara kalian.”

Singkat tulisan, menikahlah kalian bagi yang telah mampu dan siap untuk berumah tangga. Karena menundanya tanpa alasan yang syar’i, justru akan menimbulkan bencana. Kemana lagi akan kau salurkan syahwatmu di tengah badai fitnah sekarang ini, kecuali dengan menikah? Karena dengan menikah, akan lebih bisa menjaga kehormatan dan kemaluan. Jika belum mampu, maka berpuasalah seperti yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mungkin jika ada seseorang yang terus-menerus bertanya kepada Anda kapan Anda akan menikah, mungkin anda bisa menjawabnya dengan jawaban seperti perkataan teman satu wisma saya, yang kurang lebih bunyinya.

“Maka kukatakan kepada mereka-mereka yang terus bertanya, ‘Kapan engkau akan menikah?’

Jawabku : Kutitipkan hatiku kepada Dzat yang tidak pernah mengkhianati titipan, agar Dia memberikan hatiku kepada satu-satunya orang yang paling Ia ridhoi menjadi pelengkap tulang rusukku. Dan dalam penantian akan kupersiapkan diriku sebaik-baiknya agar aku bisa memuliakan wanita ini seutuhnya sebagai permaisuriku, selamanya. Dan biarlah keputusan-Nya itu menjadi rahasia, hingga kelak saatnya tiba..”

Kalau sudah cocok, segera saja.. ^^