Ada sebuah kisah cinta yang menarik, dan ini terjadi di zaman ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Cerita ini dimuat dalam suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya suami dari Barirah[1] adalah seorang budak.

Ibnu ‘Abbas berkata tentang Mughits, “Aku ingat, tatkala hal itu terjadi, Mughits mengikuti Barirah kemana pun Barirah pergi, sambil menangis dan air matanya mengalir deras hingga membasahi jenggotnya.” Kemudian Nabi berkata kepada ‘Abbas (Ayahnya Ibnu ‘Abbas) tatkala melihat kejadian tersebut, “Wahai ‘Abbas, tidakkah engkau merasa takjub atas besarnya cinta Mughits terhadap Barirah, dan besarnya rasa benci Barirah terhadap Mughits.

Maka Nabi pun bertanya kepada Barirah, “Bagaimana jika engkau kembali pada Mughits?” Barirah menjawab, “Apakah ini perintahmu Wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Aku hanya memberi syafa’at (saran untuk ruju’).” Kemudian Barirah menjawab, “Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.”

Sungguh kisah yang sangat menarik, di dalamnya terdapat banyak hikmah yang dapat diambil.

  • Tentunya yang paling menarik adalah kisah cinta antara Mughits dan Barirah. Dapat kita lihat bahwa sangat besarnya cinta Mughits kepada Barirah, sampai-sampai saat Barirah pergi, Mughits mengikuti Barirah dari belakang. Tidak sampai di situ, Mughits mengikuti Barirah dalam keadaan  air matanya bercucuran, hingga basahlah jenggotnya.
  • Sebuah kenyataan pahit yang dialami oleh Mughits, padahal rasa cinta Mughits begitu besar terhadap Barirah, akhirnya kandas berujung perceraian. Dan terkadang rasa cinta yang dimiliki, tidak menyebabkan langgengnya suatu pernikahan. Terbukti bahwa besarnya rasa cinta Mughits kepada Barirah akhirnya tidak dapat mengalahkan besarnya rasa benci Barirah kepada Mughits.
  • Seorang yang sudah benar-benar jatuh cinta, dia akan melakukan apa saja, bahkan bisa dikatakan sebagai pengemis cinta, agar cintanya dapat diterima. Dan orang yang jatuh cinta, hatinya tidak ingin lepas dari orang yang ia cintai. Sungguh tersiksa hati orang yang sedang jatuh cinta, terjerat cinta. Ia akan selalu memikirkan orang yang ia cintai, meskipun orang yang ia cintai tidak memikirkannya, bahkan membencinya. Menyedihkan!
  • Mughits dan Barirah menikah ketika mereka sama-sama menjadi budak, sehingga diperbolehkannya sesama budak untuk menikah. Namun ketika budak perempuan itu merdeka, maka ia memiliki hak pilih atas suaminya (yang masih menjadi budak), apakah tetap bertahan , ataukah cerai. Dan hal ini juga mengisyaratkan adalah sekufu (selevel, pent.) dalam pernikahan. Karena Nabi memberikan hak pilih kepada Barirah ketika ia dimerdekakan, dan Mughits masih berstatus budak.
  • Hadits ini juga menceritakan betapa cerdasnya Barirah. Karena tatkala Nabi bertanya, ia menjawab apakah ini adalah perintah Nabi. Karena jika hal itu adalah perintah Nabi, maka mau tidak mau Barirah harus mendengar dan ta’at. Dan ternyata Nabi hanya memberi saran agar ia ruju’ kepada Mughits. Hal ini menunjukkan  betapa besarnya rasa semangat untuk mematuhi perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Di dalam hadits ini Nabi berkata hanya sebagai pemberi syafa’at,  jadi yang namanya syafa’at itu juga berlaku bagi mereka yang hendak menikah. Ketika hendak melamar seorang gadis, hasilnya mungkin akan berbeda ketika kita datang sendiri melamar, atau bersama seorang yang disegani oleh sang wali nikah. Misalnya bersama kiyai, ustadz, atau tokoh masyarakat yang disegani.
  • Terakhir, tangisan Mughits hingga membasahi jenggotnya menunjukkan para Shahabat itu memelihara jenggot. Karena jenggot adalah perintah dari Rasulullah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Selisihilah orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Al-Bukhari)


[1] ia adalah Mughits, mereka berdua menikah tatkala masih menjadi budak, kemudian Ibunda ‘Aisyah membeli Barirah kemudian memerdekakannya, dan Barirah diberikan pilihan, apakah ingin tetap bersama Mughits, ataukah cerai, dan Barirah pun memilih cerai