bookSudah lama ngaji, kenal dakwah sunnah sudah bertahun tahun, tapi pemahaman tentang agama masih terbilang kurang. Apa ada yang salah? Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami demikian. Dan tidak perlu banyak dalil yang dikeluarkan untuk menjelaskannya.

Niat yang keliru

Sebenarnya tujuan kita mengaji itu apa sih? Tentu agar kita memahami agama dengan baik, agar kita dapat beribadah sesuai dengan apa telah yang Allah syari’atkan. Dan kita mengetahui hal-hal buruk yang telah Allah larang. Dengan belajar ilmu agama, kita tahu mana yang halal, dan mana yang haram.

Tapi coba kita tilik di dalam hati kita, sudah benarkah niat kita selama ini dalam menuntut ilmu agama? Apakah niat kita sama seperti yang telah dituliskan di atas? Atau kah ada hal-hal lain yang memalingkannya? Misalnya ingin dianggap sebagai orang yang rajin ngaji, rajin belajar ilmu agama, dan misal lainnya. Intinya ingin mengharapkan pujian manusia.

Bacalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwatkan shahabat ‘Umar bin Al-Khattab (yang artinya),

“Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang itu akan mendapatkan hasil dari apa yang telah ia niatkan…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketika niat kita mengaji hanya untuk mendapatkan dunia, maka hanya sebatas itulah hasil yang kita dapatkan dari mengaji. Karena betapa banyak mereka yang melakukan amalan shalih, namun rusak dalam niatnya.

Dalam lanjutan hadits niat, dikatakan bahwa

“…barangsiapa yang hijrahnya karena dunia, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang telah ia tujukan.”

Di sini Nabi menyebutkan tujuan hijrah secara umum, kemudian menyebutkan secara khusus. Secara umum adalah dunia yang ingin ia daptakan, dan secara khusus adalah wanita yang ingin dinikahi.

Faedah hadits ini menunjukkan bahwa menikahi wanita saja dikategorikan sebagai hijrah dengan tujuan mendapatkan dunia. Padahal kita tahu menikah adalah suatu ibadah, untuk mendapatkan kehalalan. Lalu bagaimana jika meniatkan hijrah untuk melakukan zina kepada wanita??

Dan disebutkannya khusus setelah hal yang umum, menunjukkan besarnya perhatian kepada hal yang khusus itu. Hal ini menunjukkan bahwa wanita memang menjadi godaan yang paling besar bagi kaum pria. Dan wanita bisa menjadi fitnah bagi mereka yang masih lajang, maupun yang telah menikah.

Ngantuk, atau bahkan tertidur

Kita dapati fenomena sebagian yang ikut dalam pengajian, ngantuk, bahkan tertidur. Karena jika kita tertidur, maka kita tidak akan mendapatkan faedah ilmu dari pengajian tersebut. Mungkin karena kelelahan, atau malamnya bergadang. Namun harus kita sadari, agar kita menemukan solusi untuk mengatasi rasa kantuk yang menyerang saat ikut pengajian. Bisa jadi dengan berwudhu, mencatat faedah kajian, atau memakan permen jika hal itu tidak mengganggu peserta kajian lainnya.

Tidak fokus dalam mengaji

Banyak hal yang menyibukkan seseorang dari fokus dalam mengaji. Misalnya main HP, cetek sana cetek sini. Bukankah adab dalam menuntut ilmu adalah fokus dalam mendengarkan kajian? Ketika seseorang main HP, maka hal itu dapat menganggu konsetrasinya, dan mengganggu kawannya yang ada di sebelahnya.

Tidak mencatat saat mengaji

Sebagian orang yang datang ke pengajian, datang dengan modal kuping saja, alias cukup mendengarkan kajian, tanpa membawa alat tulis untuk mencatat. Padahal di dalam pengajian terdapat faedah yang banyak sekali bisa dicatat, dan kemungkinan besar akan lupa jika pengajian telah selesai.

Tidak memuraja’ah kembali

Terkadang muncul rasa malas ketika hendak mengulang materi kajian yang telah diikuti. Meskipun kita telah mencatat hasil kajian, namun ketika tidak dimuraja’ah, maka akan lupa pula faedah kajian yang telah di dapatkan.

Sering telat datang ke pengajian

Ketika seseorang telat datang ke pengajian, maka ia juga akan mendapatkan faedah yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang datang lebih awal.

Banyak melakukan maksiat

Terakhir, akan saya petikkan sya’ir Al-Imam Asy-Syafi’i ketika ia mengadukan kepada gurunya, Al-Imam Waki’

Aku mengeluhkan buruknya hapalanku kepada Waki’

Maka ia membimbingku agar aku meninggalkan maksiat

Dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya

Dan cahaya tidak akan Allah berikan kepada pelaku maksiat

Semoga nasehat ini bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri.

Sumber: di sini