cincinDari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bekas za’faran[1] pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Lantas Nabi pun bertanya, “Apa ini?” ‘Abdurrahman bin ‘Auf menajwab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku baru saja menikahi perempuan dengan mahar berupa sebiji emas.” Nabi berkata, “Barakallahu laka (semoga Allah memberkahimu), adakanlah walimah (‘ursy) walau hanya dengan seekor kambing.” (Muttafaqun ‘alaih, dan hadits di atas dalam riwayat Imam Muslim)

Beberapa faedah yang dapat dipetik dari hadits ini

  • Terlarangnya bagi laki-laki menggunakan za’faran, karena Nabi melihat pada diri ‘Abdurrahman bin ‘Auf ada bekas dari za’faran, kemudian Nabi bertanya dengan nada pengingkaran.
  • Kroscek dahulu sebelum menghukumi. Dalam hadits ini, Nabi tidak langsung menyalahkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang ada pada dirinya bekas za’faran. Ketika Nabi melihat shahabatnya menggunakan sesuatu yang terlarang, maka Nabi bertanya terlebih dahulu sebelum menghukumi. Sebuah akhlak mulia yang dicontohkan oleh Nabi, dan patut ditiru oleh setiap muslim.
  • Salah satu doa yang diberikan kepada orang yang baru menikah adalah “barakallahu laka”. Nabi mendoakan shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang baru saja menikah dengan doa tersebut.
  • Dianjurkannya walimatul ‘ursy. Para ‘ulama berselisih pendapat hukum mengadakan walimatul ‘ursy. Bagi mereka yang memegang kaedah “al amru lil wujub” (hukum asal perintah adalah wajib), berpendapat bahwa mengadakannya adalah wajib hukumnya. Namun yang lebih tepat adalah dianjurkan. Karena lanjutan hadits yang bunyinya “walau hanya seekor kambing”, merupakan indikator yang menurunkan hukum yang asalnya wajib, menjadi dianjurkan.
  • Dalam hadits ini, Nabi tidak tahu bahwa salah seorang shahabatnya ada yang baru saja menikah. Hal ini menunjukkan tidaklah wajib bagi seorang murid, memberi tahu pernikahannya kepada gurunya. Karena ‘Abdurrahman bin ‘Auf tidaklah memberi tahu Nabi perihal pernikahannya. Jadi tidaklah benar anggapan sebagian orang, jika ingin menikah, harus ijin kapada guru atau murabbinya terlebih dahulu. Bukankah Nabi adalah sebaik-baik murabbi? Namun sebuah adab yang baik, hendaknya guru tersebut diajak berdiskusi. Akan tetapi, jika tidak melakukannnya, tidaklah mengapa.

[1] Wewangian yang digunakan wanita ketika baru menikah

Sumber: di sini