Di zaman sekarang ini, kita sering mendengar perkataan emansipasi wanita. Bahasa bebasnya adalah persamaan hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan. Padahal kita tahu, bahwa penyeru emansipasi itu berasal dari negeri kafir, namun yang sangat disayangkan, sebagian dari kaum muslimin turut membantu gerakan yang pada hakikatnya adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar.

Sebagai seorang muslim, meluruskan anggapan di atas bukanlah suatu hal yang sulit. Apabila kita mau merenungi firman Allah Ta’ala (yang artinya),

Dan laki-laki, tidaklah sama dengan perempuan.” (QS. Ali Imran: 36)

Secara akal, laki-laki sangat berbeda dengan perempuan. Baik dari segi fisiknya, psikologisnya, dan agamanya. Laki-laki memiliki fisik yang jauh lebih kuat dibandingkan perempuan. Perempuan juga lebih cenderung mengutamakan perasaan daripada logikanya.

Syariat juga membedakan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya dalam hal warisan, laki-laki mendapat jatah dua kali lebih banyak daripada perempuan. Perempuan mengalami haidh sehingga tidak ada qadha bagi perempuan jika tidak shalat ketika sedang haidh.

Jika emansipasi wanita terwujud, maka akan terjadi kerancuan dalam kepemimpinan, dimana sebagian perempuan akan menjadi pemimpin bagi sebagian laki-laki. Padahal Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, dengan apa yang telah Allah anugerahkan pada sebagian di antara mereka, dan dengan apa yang mereka infakkan dari harta-harta mereka…” (QS. An-Nisa: 34)

Dari ayat di atas, laki-laki menjadi sebab menjadi pemimpin bagi perempuan dikarenakan dua hal.

  1. Hal itu merupakan anugerah yang Allah berikan dan tetapkan untuk kaum laki-laki.
  2. Karena laki-laki lah yang memberi nafkah kepada perempuan jika sudah berumah tangga.

Begitu juga dengan surah At-Tahrim pada ayat yang ke-10, Allah mensifati istri dari Nabi Nuh dan Nabi Luth dengan kata “تَحۡتَ”, yaitu di bawah. Artinya apa? Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Hirasatul Fadhilah mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan atas istri kedua Nabi tersebut. Sehingga kekuasaan hanya berada pada Nabi Nuh dan Nabi Luth. Oleh karena itu, perempuan tidak bisa disamakan dengan laki-laki, apalagi lebih tinggi kekuasaannya daripada laki-laki.

Mendapat Ganjaran yang Sama

Secara syariat, Allah memang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Namun Allah memberikan ganjaran yang sama kepada laki-laki dan perempuan apabila melakukan amal shalih. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Barangsiapa yang melakukan amal shalih baik dia laki-laki atau pun perempuan, dan dia adalah seorang yang beriman, maka akan Kami berikan kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl: 97)

Selain ganjaran di dunia, Allah juga akan memberi ganjaran di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki atau pun perempuan, dan dia adalah seorang yang beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga, dan mereka tidak dizhalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 124)

Sebagai penutup, nenek moyang manusia, yaitu Nabi Adam tercipta dari benda mati berupa tanah. Sedangkan Hawa tercipta dari benda hidup, yaitu tulang rusuk Nabi Adam. Telah jelaslah bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan, sudah ditentukan Allah Tabaraka wa Ta’ala sejak manusia pertama kali diciptakan.

Sumber: di sini