Sebuah kisah yang sangat menarik, yang jarang terjadi di kalangan orang yang sangat berilmu. Kisah seorang ‘Ulama yang memiliki murid yang sangat banyak, namun hal itu tidak menghalanginya untuk mengakui keilmuan seseorang, dan mereima kebenaran, apalagi dari orang yang baru ia kenal. Berikut kisahnya!

Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul ‘Arabi dalam kitabnya Ahkamul Qur`an (1/182-183) menukil bahwa Muhammad bin Qasim Al-‘Ustmani telah bercerita kepadaku menceritakan kisahnya lebih dari sekali. Beliau menuturkan, “Tatkala aku pertama kali datang ke daerah Fusthath, aku menghadiri pengajiannya Asy-Syaikh Abul Fadhl Al-Jauhariy, dan mendengar ceramah beliau saat pertama kali aku duduk di majelisnya, dan beliau berceramah: ‘Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penah men-thalaq (cerai), men-zhihar[1], dan meng-ila[2] istri-istri beliau.’ Tatkala Syaikh tersebut keluar dari majelisnya, aku mengikuti beliau bersama sejumlah orang hingga sampai ke rumah beliau. Ia duduk bersama kami di beranda rumahnya dan mengenali satu per satu muridnya. Sedangkan kepadaku, beliau memberikan isyarat bahwa aku terlihat asing baginya.

Tatkala sebagian besar murid-muridnya pulang, ia berkata kepadaku: ‘Engkau terlihat asing dari pandanganku. Apakah engkau ingin menyampaikan sesuatu?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Maka ia berkata ke murid-muridnya, ‘Pulanglah kalian.’ Maka murid-muridnya pun berlalu, hingga hanya aku yang bersama dirinya.

Aku pun berkata pada dirinya, ‘Aku duduk di majelismu untuk mencari berkah ilmu darimu, dan aku mendengar engkau mengatakan bahwa Rasulullah pernah meng-ila istri-istrinya, dan engkau benar. Rasulullah juga penah melakukan thalaq, dan engkau benar. Engkau pun mengatakan Rasulullah pernah men-zhihar para istrinya, dan hal ini tak mungkin terjadi dan tidaklah benar. Karena zhihar adalah suatu perbuatan yang munkar dan suatu kejahatan, hal itu tak  boleh dan tak mungkin dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Tiba-tiba ia memelukku sambil mencium kepalaku, dan berkata kepadaku, ‘Aku betaubat dari perkataan semacam itu, semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada orang yang telah mengajarkanku.’ Aku pun pulang dan esoknya aku pagi-pagi mendatangi majelisnya. Maka telah banyak orang yang mendahuluiku datang ke majelisnya, dan beliau sedang duduk di atas mimbar.

Ketika aku masuk ke dalam pintu masjid, beliau melihatku dan berteriak memanggilku dengan nada yang tinggi, ‘Selamat datang wahai guruku, berikanlah jalan kepada guruku.’ Maka semua orang menoleh kepadaku dengan tatapan mata yang tajam, dan mengenaliku wahai Abu Bakr (Ibnul ‘Arabi) –Muhammad bin Qasim menunjukkan rasa malunya yang sangat besar, beliau juga dikejutkan dengan ucapan salam murid-murid Syaikh Abul Fadhl, betapa malunya ia dan memerahlah wajahnya bagai dilumuri bunga pohon delima-”.

Muhammad bin Qasim pun melanjutkan ceritanya, “Langsung saja murid-murid beliau mengangkatku dengan tangan-tangan mereka (karena saat ini majelis penuh sesak, dan tidak ada cara lain kecuali mengangkatnya untuk sampai ke depan, pent.), mendorongku maju hingga aku sampai di depan mimbar. Dan aku saat itu sangat malu, sampai-sampai aku tidak tahu di bagian bumi manakah aku berpijak saat itu. Masjid pun penuh sesak dengan orang-orang dan tubuhku berkeringat dingin akibat rasa maluku.

Syaikh pun menghadapkanku di hadapan para murid-muridnya dan berkata kepada mereka, ‘Aku adalah guru kalian, dan ini (Muhammad bin Qasim) adalah guruku. Ketika kemarin aku berkata kepada kalian bahwa Rasulullah pernah meng-ila, men-thalaq, dan men-zhihar, tidak ada satu pun yang memberitahuku (mengoreksi, pent.), dan tidak ada yang membantahku, maka ia (Muhammad bin Qasim) mengikutiku sampai ke rumahku dan berkata demikian dan demikian, antara aku dan dirinya. Aku mengumumkan bahwa aku bertaubat dari perkataanku kemarin dan kembali kepada kebenaran. Maka siapa saja yang mendengar (penjelasanku) dari yang hadir kemarin, janganlah bergantung padanya (menerima ucapannya, pent.), dan siapa saja yang tidak hadir sekarang, maka orang-orang yang hadir sekarang, sampaikanlah kepada yang tidak hadir hari ini. Semoga Allah membalas kebaikannya.’ Dan mulailah ia mendoakanku dan para murid-muridnya meng amin kannya. (Al-Ibanah, Syaikh Muhammad al-Imam, hal. 279-280)

Subhanallah! Kisah di atas sangat mengagumkan dan menakjubkan. Seorang ‘Ulama, seorang guru yang memiliki murid yang sangat banyak, tidak segan untuk segera kembali kepada kebenaran ketika ia salah. Bahkan menganggap orang yang yang mengoreksi kekeliruannya sebagai gurunya, padahal ia tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu sebelumnya.

Beberapa faedah yang dipetik dari kisah di atas

Sebuah adab yang baik dalam memberikan nasehat, yaitu secara diam-diam. Muhammad bin Qasim memberikan nasehat kepada Asy-Syaikh tatkala murid-murid Syaikh tersebut telah pulang semua. Hal ini terjadi secara empat mata antara dirinya dan Syaikh tersebut. Betapa banyak fenomena di zaman sekarang, orang yang memberikan nasehat dengan adab yang buruk, yaitu di depan khalayak ramai. Sehingga yang terjadi bukanlah suatu kebaikan, namun keburukan. Ibarat mengumbar aib dan keburukan di depan orang lain.

Segera bertaubat dari kesalahan ketika tahu bahwa hal itu adalah salah dan tidak menunda taubat. Tatkala Syaikh tersebut tahu bahwa perkataan yang diucapkannya keliru, maka beliau langsung menyatakan taubat dan keesokan harinya segera meralat perkataannya kepada murid-muridnya.

Begitu sesaknya majelis yang penuh dengan manusia menunjukkan semangat orang terdahulu dalam menuntut ilmu agama. Sangat berbeda dengan zaman sekarang, yang penuh bukanlah majelis ilmu, namun majelis keburukan seperti konser musik dan lawakan!

Faedah lain dari kisah di atas adalah salah satu penerapan kaedah menerima kebenaran. Tidaklah kita tolak perkataan seseorang apabila kita tahu bahwa apa yang ia katakan adalah suatu kebenaran. Meskipun kebenaran tersebut disampaikan oleh orang yang belum kita kenal, bahkan jika yang menyampaikannya adalah orang yang kita benci sekali pun, wajib bagi kita menerima kebenaran yang disampaikannya.

Faedah terakhir yang dapat kita ambil dari kisah di atas adalah mendoakan kebaikan orang yang telah menunjukkan kebaikan pada diri kita. Kita tidak hanya berterima kasih kepadanya, namun mendoakan kebaikan baginya.


[1] Zhihar berarti punggung secara bahasa, secara syari’at seperti ungkapan seorang seorang suami yang berkata pada istrinya, “engkau seperi ibuku”, hal ini haram, dalilnya surah al mujadalah ayat 3-4

[2] Bersumpah tidak melakukan hubungan badan dengan istri selama jangka waktu tertentu

Sumber: di sini