Berdakwah adalah suatu perbuatan yang sangat mulia. Tugas ini dilakukan oleh para Nabi dan Rasul sejak dahulu, dan sekarang diwariskan kepada para ‘ulama. Namun sangat disayangkan, sebagian dari kaum muslimin, mereka memiliki semangat dakwah yang sangat besar, namun menempuh cara yang keliru.

Tujuan Dakwah Para Nabi dan Rasul

Telah jelas sekali, bahwa tujuan para Nabi dan Rasul berdakwah adalah karena Allah. Agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)

Allah memiliki hak yang sangat besar, dan kesyirikan adalah suatu kezhaliman yang sangat besar terhadap hak Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

…Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar.” (QS: Luqman: 13)

Dakwah Bukan Untuk Mencari Massa

Dakwah bukanlah sekedar mencari banyaknya pengikut, akan tetapi meninggikan kalimat tauhid dan menyembah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan tidaklah Kami utus rasul sebelum engkau kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS: Al-Anbiya: 25)

Bukti lain bahwa dakwah bukanlah mencari massa berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya),

Maka aku melihat seorang Nabi yang bersamanya (ada pengikut) serombongan (± 10 orang), dan seorang Nabi yang bersamanya (ada pengikut) satu atau dua orang, dan seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah wahai saudaraku, ada Nabi yang pengikutnya hanya 10 orang, ada Nabi yang pengikutnya hanya satu atau dua orang, bahkan ada Nabi yang tidak ada pengikutnya sama sekali!! Seandainya dakwah itu untuk mecari massa, niscaya Nabi terdahulu sudah menjadi hina, karena memiliki pengikut yang sedikit, bahkan tidak ada satu pun pengikutnya.

Ketika seseorang berdakwah untuk mencari massa, maka ia tidak akan peduli, siapa yang telah mengikuti dakwahnya. Apakah dia seorang ahli tauhid? Seorang yang bermaksiat kepada Allah? Ahli bid’ah dan yang lainnya. Yang terpenting baginya adalah banyaknya pengikut sehingga terkumpul suara yang banyak.

Ketika Allah di durhakai, sedikit sekali pembelaan mereka. Namun ketika anggota mereka dicela, betapa banyak mereka yang membelanya hingga tutup mata dengan kesalahannya. Ketika kesyirikan tersebar, hanya sedikit suara dari mereka yang bergaung. Namun ketika terjadi perubahan hukum negara, mereka seakan berlomba menyuarakan suara dan kepedulian mereka.

Semoga Allah memberikan kita sifat ikhlas dalam berdakwah. Tidak peduli berapa yang menerima dakwah kita, dan tidak peduli berapa yang mengikuti dakwah kita.

Sumber: di sini