Persaingan. Hal ini wajar dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tahukah bahwa di dalam rumah tangga Nabi, terdapat persaingan di antara para istri-istrinya? Bahkan membuat semacam Gang. Yang pertama adalah gang nya ‘Aisyah, dan yang kedua adalah gang nya Ummu Salamah.

Diriwayatkan Al-Bukhari, bahwasanya istri-istri Rasulullah terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah dan Saudah binti Zam’ah. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari Ummu Salamah dan sisa istri Rasulullah yang lainnya.

Kaum muslimin pada saat itu telah tahu, bahwa ‘Aisyah lah yang paling dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka ingin memberi hadiah kepada Nabi, maka mereka menunggu hingga Nabi bermalam (jatah pembagian hari di antara istri-istri beliau, pent.) di rumahnya ‘Aisyah. Kemudian mengutus seseorang untuk mengirimi hadiah kepada Nabi saat jatah giliran Nabi berada di rumahnya ‘Aisyah.

Istri-istri Nabi dari kelompok Ummu Salamah berkata kepada Ummu Salamah,

“Adukan kepada Rasulullah, agar beliau mengumumkan kepada manusia: Barangsiapa yang ingin memberi hadiah kepada Rasulullah, maka berikanlah dimana pun saat ini itu Nabi bermalam (tidak pilih-pilih, pent.).”

Maka Ummu Salamah pun mengadukannya kepada Nabi, dan Nabi hanya diam saja. Istri-istri Nabi dari kelompoknya Ummu Salamah menanyakan hasilnya kemudian dijawab Nabi hanya diam saja. Mereka pun menyuruh Ummu Salamah untuk mengadu kembali, namun Nabi tetap diam saja. Mereka kembali meminta Ummu Salamah mengadu lagi, namun Nabi pun tetap diam saja

Hingga pengaduan yang ke-4 barulah Nabi menjawab,

“Jangan menggangguku dimana hal itu berkaitan tentang ‘Aisyah, tidaklah wahyu turun ketika aku sedang satu selimut dengan seorang perempuan, kecuali bersama ‘Aisyah.”

Ummu Salamah pun berkata,

“Aku bertaubat kepada Allah karena telah mengganggumu wahai Rasulullah.”

Beberapa Faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas

1. Cemburu adalah hal yang wajar ketika seseorang itu dipoligami. Hal itu terjadi di antara istri-istri Nabi yang merupakan Ummahatul Mukminin sehingga mereka terbagi menjadi 2 kubu. Bagaimana dengan wanita selain istri-istri Nabi? Tentu lebih layak lagi memiliki sikap cemburu.

2. Adanya jatah pembagian bermalam untuk seorang suami yang melakukan poligami. Hal ini harus diberikan secara adil di antara istri-istrinya. Ada pun yang dimaksud jatah pembagian bermalam adalah termasuk siang dan malam harinya.

3. Nabi dan keluarganya tidak boleh menerima sedekah, namun boleh menerima hadiah.
Boleh bagi suami untuk menegur sikap keliru yang dilakukan oleh istrinya, ketika menegur adalah suatu hal yang bermanfaat. Karena pada awalnya Nabi hanya diam saja.

4. Keutamaan ‘Aisyah yang tidak dimiliki oleh istri-istri Nabi yang lainnya. Wahyu hanyalah turun ketika Nabi bermalam di tempat ‘Aisyah, dan hal ini tidak terjadi ketika Nabi bermalam di rumah istri-istrinya yang lain.

5. Sebuah sikap yang sangat baik yang dicontohkan oleh Ummu Salamah, ketika ia mengakui telah berbuat kekeliruan karena mengganggu Nabi, ia langsung bertaubat kepada Allah. Hal ini menjadi teladan bagi kita semua agar bersegera dalam taubat dan tidak menundanya ketika terjerumus dalam suatu kesalahan.

6. Pada asalnya, orang yang melakukan poligami haruslah bersikap adil kepada istri-istrinya. Namun hal ini hanyalah berkaitan dengan nafkah, tempat tinggal, dan pakaian, setelah ia melakukan segala bentuk upaya sesuai dengan kemampuannya. Ada pun perasaannya kepada istri-istrinya, pasti ia akan condong kepada salah satu di antara istri-istrinya, namun hal ini tidak boleh menjadi sebab ia bersikap tidak adil dan berbuat zhalim.