Menurut sebagian orang, sebuah rumah tangga belum lah disebut rumah tangga jika tidak dibumbui sesuatu. Contohnya adalah kecemburuan. Ibarat sayur tanpa garam. Rasa cemburu adalah rasa yang wajar, yang dimiliki setiap manusia. Bahkan Allah sendiri pun memilki sifat cemburu. Tentunya sifat cemburu Allah berbeda dengan cemburunya makhluk, sifat cemburu Allah sesuai dengan kegungan dan kebesaran Allah.

Beberapa kisah yang menunjukkan bahwa Nabi hanyalah manusia biasa, terutama dalam hal rumah tangganya bersama para istri-istrinya.

Sebuah hadits dari shahabat Anas bin Malik,

tatkala Nabi sedang berada di salah satu rumah istri-istrinya. Suatu ketika salah seorang dari istri Nabi mengutus seseorang untuk memberikan piring yang berisi makanan kepada Nabi. Kemudian seorang istri Nabi memukul tangan utusan tersebut hingga terjatuhlah piring tersebut dan pecah. Nabi pun segera mengumpulkan pecahan piring tersebut, kemudian mengumpulkan makanan yang telah terjatuh dari piring tersebut. Nabi pun berkata, “Ibumu sedang cemburu.” Kemudian Nabi menahan utusan tersebut sampai menyerahkan piring baru yang ada di rumah istri beliau, sebagai pengganti piring yang telah pecah tadi, dan membereskan pecahan piring yang tadi. (HR. Al-Bukhari)

Beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas

  1. Meskipun istri-istri Nabi adalah para ummahatul mukminin (ibunya orang-orang yang beriman), mereka tetaplah seorang manusia biasa yang punya rasa cemburu sepertinya cemburunya umumnya wanita.
  2. Nabi tidaklah marah-marah ketika melihat istrinya menjatuhkan piring yang berisi makanan hingga pecah. Karena Nabi tahu bahwa istrinya melakukan hal yang demikian karena rasa cemburu. Begitulah seharusnya sikap seorang suami ketika menghadapi sikap istrinya yang sedang cemburu. Harap maklum kata orang.
  3. Begitu tawadhu’nya sikap Nabi. Beliau langsung membereskan pecahan piring itu sendirian, padahal ada utusan di dekat beliau yang bisa dimintai tolong untuk membereskan pecangan piring tersebut.
  4. Adanya kewajiban mengganti barang yang telah dirusak. Nabi mengganti piring yang pecah dengan piring milik istrinya yang memecahkan piring tersebut.

Kisah lain tentang kecemburuan Istri Nabi

Sebuah kisah lain sebagai penutup tulisan ini, suatu ketika ‘Aisyah berkata,

Tidaklah aku lebih cemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadijah, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.” ‘Aisyah pun menceritakan ketika Nabi menyembelih seekor kambing, Nabi pun berkata, “Berikanlah sebagian sembelihan ini kepada teman-temannya Khadijah.” Maka aku pun kesal dan berkata, “Khadijah lagi!?” Nabi lalu menjawab, “Sesungguhnya aku diberikan anugerah yang lebih untuk mencintai Khadijah.” (HR. Muslim)

Beberapa faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas

  1. Kisah di atas menunjukkan betapa besarnya rasa cemburu ‘Aisyah kepada Khadijah, padahal ‘Aisyah belum pernah berjumpa dengan Khadijah. Hal ini menunjukkan kecemburuan adalah sikap yang wajar dalam sebuah rumah tangga. Hanya saja, bagaimana sikap tepat yang dilakukan seorang suami ketika melihat istrinya sedang dilanda kecemburuan.
  2. Nabi masih menjaga hubungan baik dengan teman-temannya Khadijah dengan cara memberikan hadiah kepada mereka.
  3. Meskipun Khadijah telah tiada, namun rasa cinta Nabi kepada Khadijah masih besar. Hal itu adalah anugerah yang Nabi miliki dalam mencintai Khadijah.

Sumber: di sini