Sebelum kita membahas tentang niat, baiknya kita mengetahui, apa sih niat itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), niat adalah kehendak (keinginan di hati) akan melakukan sesuatu. Jika kita paham arti dari niat, akan mudah bagi kita untuk membahas tentang niat.

Jika kita menilik arti niat menurut KBBI, letak niat adalah di dalam hati. Begitu pula dalam bahasa Arab, niat memiliki arti bermaksud pada sesuatu. Ketika seseorang hendak melakukan sesuatu, maka ia sudah tercatat berniat akan melakukan sesuatu. Jadi anggapan sebagian orang, bahwa niat itu dilafazhkan adalah anggapan yang tidak benar.

Hadits yang membahas tentang itu pun hanya satu (sepanjang pengetahuan penulis), yaitu hadits yang diriwayatkan oleh shahabat ‘Umar bin Al-Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Sesunggunya amal itu tergantung dari niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari sekian banyak hadits, hadits yang menjelaskan tentang niat secara gamblang hanya hadits di atas. Padahal kita tahu, bahwa banyak sekali amalan yang Nabi ajarkan, namun Nabi tidak pernah mengajarkan niat dari satu per satu amalan yang dikerjakan. Karena letak niat adalah di hati, bukan di lafazhkan ketika hendak melakukan setiap amalan.

Suatu contoh ketika niat itu dilafazhkan, saat shalat berjama’ah, sang imam batal kemudian digantikan oleh makmum yang ada di belakang imam. Pada awalnya sang makmum berniat menjadi makmum, kemudian berubah menjadi imam. Apakah lantas ia mengganti niatnya dengan melafazhkannya saat ia maju menjadi imam? Tentu shalatnya akan batal.

Hendaknya kita semua mencukupkan dengan apa yang Nabi tuntunkan, tidak perlu nambahi, atau ngurangi. Bukankah sebaik-sebaik adalah petunjuk Nabi? Dan sebaik-sebaik pengikut adalah para shahabat Nabi? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan berasal dari kami (tidak ada tuntunannya, pent.), maka amalan itu akan tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebuah kisah yang saya dapatkan dari pengajian Al-Ustadz Aris Munandar hafizhahullah, yang berkaitan dengan niat. Alkisah datanglah seseorang kepada ‘Ibnu ‘Aqil Al-Hambali. Ia mengadukan perihal mandi junubnya yang ia lakukan di sungai. Ia mengadu,

Wahai ‘Ibnu ‘Aqil, aku telah mandi junub dengan menceburkan diriku ke sungai, namun aku merasa bahwa aku belum mandi junub ketika keluar dari sungai“. Kemudian ‘Ibnu ‘Aqil berkata, “Sesungguhnya jika kamu mengerjakan shalat, maka shalatmu tidak akan sah.”

Bagaimana bisa engkau menceburkan diri ke sungai padahal engkau telah berniat di dalam hati untuk mandi junub, dan engkau belum merasa telah mandi junub. Hanya orang gila lah yang melakukan sesuatu tanpa niat di hatinya, dan orang gila tidak akan diterima shalatnya sama sekali.

Kisah ini menunjukkan ketika seseorang hendak melakukan sesuatu, berarti ia telah meniatkan untuk mengerjakan hal itu. Karena tidak mungkin seseorang melakukan sesuatu, namun ia tidak memiliki niat di dalam hatinya. Misalnya seseorang melemparkan batu ke kaca, ia pasti memiliki niat untuk melemparkan batu ke kaca. Meskipun ia tidak berniat untuk memecahkan kaca tersebut.

Demikianlah penjelasan singkat tentang niat. Semoga bermanfaat.

Sumber: di sini