Dek, rambutnya jangan nutupi dahi, nanti shalatnya tidak sah.” Begitulah kira-kira ucapan seorang bapak kepada saya ketika saya shalat di samping beliau.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

[arabic]أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ[/arabic]“Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan;  kening -dan beliau menunjuk hidungnya-, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kedua kaki. Dan aku diperintahkan untuk tidak menahan pakaian atau rambut.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini merupakan perintah Nabi kepada umatnya dalam tata cara bersujud, yaitu sujud dengan tujuh anggota badan. Tujuh anggota badan itu adalah kening (dan termasuknya adalah hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua jari-jemari kaki. Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah kening tidak boleh tertutupi oleh rambut ketika sujud? Sehingga ada anggapan sebagian orang bahwa shalat menjadi tidak sah ketika kening tertutupi oleh rambut.

Pertama, dalam bahasa Arab, كف memiliki arti menahan. Jadi kurang tepat jika hadits di atas memaknai كف dengan arti menutup. Jika dimaknai menutup, maka orang akan menganggap bahwa rambut tidak boleh menutupi kening saat sujud, padahal bukanlah demikian maksudnya.

Kedua, kita qiyaskan dengan kedua lutut. Bukankah kedua lutut juga tertutupi oleh celana / kain sarung? Apakah ada di antara kita yang membukanya ketika hendak sujud agar kedua lutut tidak tertutup? Karena hadits di atas berbunyi, “…Dan aku diperintahkan untuk tidak menahan pakaian atau rambut.

Ketiga, yang dimaksud menahan rambut adalah tidak mengikat rambut. Jadi yang Nabi larang adalah tidak boleh mengikat rambut, bukan menutupi kening dengan rambut. Karena mengikat rambut ke belakang agar tidak menyentuh tanah adalah salah satu bentuk kesombongan.

Namun hal yang harus diingat, sebagian ulama salaf lebih menyukai jika dahi menyentuh langsung ke tempat sujud. An Nakha’i juga berkata, “Sujud dengan menempelkan dahiku lebih aku sukai.” Dan menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pula, beliau bersujud dengan menempelkan dahi ke tempat sujud. Sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Aku melihat di kening dan di hidung Rasulullah terdapat bekas lumpur.”

Namun mayoritas ulama tetap menganggap sah apabila seseorang sujud meskipun dahinya tertutup dengan surban, peci atau songkok yang digunakannya karena sebab tertentu misalnya karena kotor, dingin atau panasnya lantai.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

Sungguh kami pernah shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sebagian diantara kami ada yang menjulurkan ujung pakaian yang dikenakannya sebagai alas sujudnya karena panas yang sangat menyengat.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya, bukanlah syarat sujud bahwa kening harus menyentuh tanah secara langsung. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah shalat dengan beralaskan ujung pakaian beliau. Wallahu Ta’ala A’lam

Sumber: di sini