Cinta adalah sebuah rasa yang dimiliki oleh setiap makhluk. Bahkan Allah sendiri memiliki rasa cinta, tentunya berbeda dengan rasa cinta makhluk, hal ini sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.

Secara umum rasa cinta itu dibagi menjadi 4 macam, yaitu rasa cinta yang hukumnya wajib, rasa cinta yang hukumnya mubah, rasa cinta yang hukumnya haram, dan rasa cinta yang hukumnya syrik.

Cinta yang hukumnya wajib

Cinta yang hukumnya wajib adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mencintai apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai, dan membenci apa yang Allah dan Rasul-Nya benci. Contoh cinta kepada Allah adalah menta’ati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan contoh cinta kepada Rasul adalah mengikuti segala sesuatu yang dicontohkan Rasulullah, dan tidak melakukan hal yang tidak pernah dicontohkan. Misalnya mencintai orang yang mentauhidkan Allah, dan membenci orang yang menyekutukan Allah. Mencintai orang yang menjalankan sunnah Nabi, dan membenci para pelaku bid’ah.

Cinta yang hukumnya mubah

Cinta yang ini hukumnya boleh-boleh saja, karena hal ini merupakan tabi’at setiap manusia, yang tidak boleh tidak setiap manusia memilikinya. Misalnya adalah rasa cinta orang tua kepada anaknya, dan sebaliknya. Rasa cinta suami kepada istrinya, dan sebaliknya. Rasa cinta kepada sesama temannya. Namun hal ini berlaku syarat bahwa rasa cintanya tidak boleh melebihi rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika melebihi, maka akan termasuk jenis cinta yang ketiga, yaitu yang hukumnya haram

Cinta yang hukumnya haram

Telah sedikit dibahas dari pembahasan diatas, syarat cinta menjadi haram adalah jika rasa cinta itu melebihi rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Misalnya seorang yang memiliki harta, ketika hartanya harus dikeluarkan untuk membayar zakat. Apakah ia lebih memilih melaksanakan perintah Allah? Ataukah ia lebih mencintai hartanya? Apabila ia lebih mencintai hartanya, maka ia telah terjerumus dalam rasa cinta yang hukumnya haram.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (Q.S. At-taubah : 24)

Cinta yang hukumnya syirik

Cinta yang hukumnya syirik adalah rasa cinta yang disertai pengagungan dan ketundukan. Dua hal itu yang menjadi tolak ukur status cinta yang hukumnya boleh jadi mubah, atau haram menjadi cinta yang hukumnya syirik. Ketika seseorang mencintai orang kafir tanpa disertai ketundukan dan pengagungan, misalnya mencintai karena motivasi dunia, maka hal ini termasuk cinta yang haram. Namun apabila derajat cintanya disertai ketundukan dan pangagungan, misalnya mencintai orang-orang kafir karena agama mereka, maka hal ini termasuk cinta yang hukumnya syirik.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” (Q.S. Al-Baqarah : 165)

Ayat di atas memiliki 2 tafsiran, yaitu

  1. Rasa cinta orang-orang musyrik kepada berhalanya, sama dengan rasa cinta orang-orang yang beriman kepada Allah
  2. Orang-orang musyrik selain mencintai Allah, mereka juga memberikan rasa cinta kepada selain Allah

Contohnya ketika ia mengaku mencintai Allah, namun ia juga memberikan ibadah kepada selain Allah. Misalnya masih memberikan sembelihan kepada selain Allah dalam acara sedekah laut.

Oleh karena itu, cintanya seorang mukmin kepada Allah adalah cinta yang ikhlas, mencintai Allah melebihi cintanya kepada sesuatu apa pun. Wallahul muwaffiq.

Sumber: di sini