Mayoritas Bahan Bakar Api Neraka Adalah Wanita

Tinggalkan komentar


Dari Jabir bin ‘Abdillah: Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hari ‘Ied. Shalat dilakasanakan sebelum khutbah, tanpa adzan dan tanpa iqamah. Kemudian beliau berdiri dan bersandar kepada Bilal, memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, memotivasi untuk melakukan keta’atan, menasehati manusia, dan mengingatkan mereka.

Nabi pun berlalu menuju jama’ah perempuan, memberi nasehat dan mengingatkan mereka. Nabi berkata,

Bersedekahlah kalian! Karena sesungguhnya mayoritas kalian adalah bahan baku (neraka) jahannam.Lagi

Iklan

Benarkah Kaedah Emansipasi Wanita?

2 Komentar


Di zaman sekarang ini, kita sering mendengar perkataan emansipasi wanita. Bahasa bebasnya adalah persamaan hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan. Padahal kita tahu, bahwa penyeru emansipasi itu berasal dari negeri kafir, namun yang sangat disayangkan, sebagian dari kaum muslimin turut membantu gerakan yang pada hakikatnya adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar. Lagi

Wanita Cantik di Zaman Nabi

1 Komentar


putihMungkin wanita cantik di zaman kita sekarang adalah wanita yang berkulit putih dan berbadan langsing. Tahukah kita bahwa kriteria wanita yang cantik di zaman Nabi seperti apa? Berikut petikan hadits yang diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di sisi Ummu Salamah, di dalam rumah seorang banci[1]. Banci tersebut bercerita kepada saudara laki-lakinya Ummu Salamah, yaitu Abdullah bin Abi Umayyah. Lagi

Rihlah

Tinggalkan komentar


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.

Sedikit tergelitik mendengar kata “rihlah”, yang dalam bahasa Indonesia berarti melakukan perjalanan. Namun bukanlah jalan-jalan itu sendiri yang menjadi permasalahannya, akan tetapi isi dari kegiatan tersebut. Nama yang “islami” bukanlah menjadikan kegiatan itu menjadi benar, namun yang menjadi tolak ukur kebenaran adalah apa yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Mungkin sebagian orang bingung kenapa kata “rihlah” yang menjadi bahasan. Karena kata tersebut identik dengan kegiatan sebagian aktivis Islam yang menisbatkan diri dalam dakwah Islam. Terus, apa hubungannya dengan masalah yang ada di dalam kegiatan tersebut? Di sini saya hanya sedikit membuka pikiran anda dalam menyikapi hal ini. Dan tulisan ini terinspirasi dari seorang teman saya yang mengalami hal tersebut. Lagi