Suratnya Rasulullah kepada Raja Heraklius

Tinggalkan komentar


‘Abdullah bin ‘Abbas mengatakan: Sesungguhnya Abu Sufyan bin Harb bercerita bahwa Heraklius, Sang Raja Romawi mengutusnya. Kemudian bersama Dihyah Al-Kalbiy membawa surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Raja Heraklius ke daerah Bushra. Ia pun menyerahkan surat tersebut kepada Heraklius, dan Heraklius membaca surat yang isinya,

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad seorangan Hamba Allah dan Utusan Allah, kepada Heraklius sang Raja Agung Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma Ba’du. Aku mengajakmu untuk mentauhidkan Allah, masuk Islam lah, maka engkau akan selamat dan Allah akan meberikanmu 2 ganjaran. Maka jika engkau berpaling, engkau akan menanggung semua dosa rakyat dan pengikutmu, (kemudian Nabi menulis ayat), “Katakanlah (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju satu kalimat yang sama di antara kami…” hingga ayat, “Saksikanlah bahwa kami adalah seorang Muslim.” (QS. Ali Imran: 64) [1] Lagi

Istri-Istri Nabi pun Cemburu

Tinggalkan komentar


Menurut sebagian orang, sebuah rumah tangga belum lah disebut rumah tangga jika tidak dibumbui sesuatu. Contohnya adalah kecemburuan. Ibarat sayur tanpa garam. Rasa cemburu adalah rasa yang wajar, yang dimiliki setiap manusia. Bahkan Allah sendiri pun memilki sifat cemburu. Tentunya sifat cemburu Allah berbeda dengan cemburunya makhluk, sifat cemburu Allah sesuai dengan kegungan dan kebesaran Allah.

Beberapa kisah yang menunjukkan bahwa Nabi hanyalah manusia biasa, terutama dalam hal rumah tangganya bersama para istri-istrinya. Lagi

Persaingan di antara Istri-Istri Nabi

Tinggalkan komentar


Persaingan. Hal ini wajar dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tahukah bahwa di dalam rumah tangga Nabi, terdapat persaingan di antara para istri-istrinya? Bahkan membuat semacam Gang. Yang pertama adalah gang nya ‘Aisyah, dan yang kedua adalah gang nya Ummu Salamah.

Diriwayatkan Al-Bukhari, bahwasanya istri-istri Rasulullah terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari ‘Aisyah, Hafshah, Shafiyyah dan Saudah binti Zam’ah. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari Ummu Salamah dan sisa istri Rasulullah yang lainnya.

Kaum muslimin pada saat itu telah tahu, bahwa ‘Aisyah lah yang paling dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka ingin memberi hadiah kepada Nabi, maka mereka menunggu hingga Nabi bermalam (jatah pembagian hari di antara istri-istri beliau, pent.) di rumahnya ‘Aisyah. Kemudian mengutus seseorang untuk mengirimi hadiah kepada Nabi saat jatah giliran Nabi berada di rumahnya ‘Aisyah.

Istri-istri Nabi dari kelompok Ummu Salamah berkata kepada Ummu Salamah,

“Adukan kepada Rasulullah, agar beliau mengumumkan kepada manusia: Barangsiapa yang ingin memberi hadiah kepada Rasulullah, maka berikanlah dimana pun saat ini itu Nabi bermalam (tidak pilih-pilih, pent.).”

Maka Ummu Salamah pun mengadukannya kepada Nabi, dan Nabi hanya diam saja. Istri-istri Nabi dari kelompoknya Ummu Salamah menanyakan hasilnya kemudian dijawab Nabi hanya diam saja. Mereka pun menyuruh Ummu Salamah untuk mengadu kembali, namun Nabi tetap diam saja. Mereka kembali meminta Ummu Salamah mengadu lagi, namun Nabi pun tetap diam saja

Hingga pengaduan yang ke-4 barulah Nabi menjawab,

“Jangan menggangguku dimana hal itu berkaitan tentang ‘Aisyah, tidaklah wahyu turun ketika aku sedang satu selimut dengan seorang perempuan, kecuali bersama ‘Aisyah.”

Ummu Salamah pun berkata,

“Aku bertaubat kepada Allah karena telah mengganggumu wahai Rasulullah.”

Beberapa Faedah yang bisa kita petik dari kisah di atas

1. Cemburu adalah hal yang wajar ketika seseorang itu dipoligami. Hal itu terjadi di antara istri-istri Nabi yang merupakan Ummahatul Mukminin sehingga mereka terbagi menjadi 2 kubu. Bagaimana dengan wanita selain istri-istri Nabi? Tentu lebih layak lagi memiliki sikap cemburu.

2. Adanya jatah pembagian bermalam untuk seorang suami yang melakukan poligami. Hal ini harus diberikan secara adil di antara istri-istrinya. Ada pun yang dimaksud jatah pembagian bermalam adalah termasuk siang dan malam harinya.

3. Nabi dan keluarganya tidak boleh menerima sedekah, namun boleh menerima hadiah.
Boleh bagi suami untuk menegur sikap keliru yang dilakukan oleh istrinya, ketika menegur adalah suatu hal yang bermanfaat. Karena pada awalnya Nabi hanya diam saja.

4. Keutamaan ‘Aisyah yang tidak dimiliki oleh istri-istri Nabi yang lainnya. Wahyu hanyalah turun ketika Nabi bermalam di tempat ‘Aisyah, dan hal ini tidak terjadi ketika Nabi bermalam di rumah istri-istrinya yang lain.

5. Sebuah sikap yang sangat baik yang dicontohkan oleh Ummu Salamah, ketika ia mengakui telah berbuat kekeliruan karena mengganggu Nabi, ia langsung bertaubat kepada Allah. Hal ini menjadi teladan bagi kita semua agar bersegera dalam taubat dan tidak menundanya ketika terjerumus dalam suatu kesalahan.

6. Pada asalnya, orang yang melakukan poligami haruslah bersikap adil kepada istri-istrinya. Namun hal ini hanyalah berkaitan dengan nafkah, tempat tinggal, dan pakaian, setelah ia melakukan segala bentuk upaya sesuai dengan kemampuannya. Ada pun perasaannya kepada istri-istrinya, pasti ia akan condong kepada salah satu di antara istri-istrinya, namun hal ini tidak boleh menjadi sebab ia bersikap tidak adil dan berbuat zhalim.

Ternyata Al-Quran Mengajarkan Cara Membuat Roti

1 Komentar


rotiSebuah kisah yang bagus, yang penulis dapatkan dari kajian kitab Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid bersama Al-Ustadz Aris Munandar hafidzahullah. Kisah yang dimuat dalam kitab Syarh Kasyfusy Syubhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau menukil kisah seorang ‘ulama[1] yang ditanya oleh seorang nashara, dengan maksud pertanyaan melecehkan Al-Quran. Lagi

Wanita Cantik di Zaman Nabi

1 Komentar


putihMungkin wanita cantik di zaman kita sekarang adalah wanita yang berkulit putih dan berbadan langsing. Tahukah kita bahwa kriteria wanita yang cantik di zaman Nabi seperti apa? Berikut petikan hadits yang diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di sisi Ummu Salamah, di dalam rumah seorang banci[1]. Banci tersebut bercerita kepada saudara laki-lakinya Ummu Salamah, yaitu Abdullah bin Abi Umayyah. Lagi

Muslim Nampak Miskin, Kafir Hidup Kaya

Tinggalkan komentar


merahMungkin pernah terbetik di dalam benak kita, kenapa kita yang seorang muslim, hidupnya jauh lebih sengsara, ketimbang mereka yang hidup di dalam kekafiran. Padahal seorang muslim hidup di atas keta’atan menyembah Allah ta’ala, sedangkan orang kafir hidup di atas kekufuran kepada Allah.

Wahai saudaraku seiman, janganlah heran dengan fenomena ini. Karena seorang shahabat Nabi yang mulia pun terheran sambil menangis. Beliau adalah ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Berikut ini kami nukilkan kisah ‘Umar yang termuat dalam kitab Tafsir Surat Yasin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Lagi

Kisah al-Imam Bukhari dengan Gurunya

3 Komentar


Shahih BukhariAbu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Imam Al-Bukhari, seorang Imam Ahli Hadits. Siapa di antara kaum muslimin yang tidak mengenal beliau? Minimal bagi kita yang mengaku sebagai seorang muslim, pernah mendengar nama beliau.

Sebuah kisah yang menarik, yang terjadi di daerah An-Naisaburiy antara Imam Bukhari dan gurunya, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy. Dalam kisah ini, sang guru hasad terhadap Al-Bukhari , karena sebagian jama’ah pengajiannya pindah ke majelisnya Al-Bukhari. Oleh karena itu, sang guru menyebarkan berita dusta tentang Al-Bukhari. Kisah ini dimuat dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa karya Al-Imam Adz-Dzahabi (12/459). Lagi

Older Entries